
Pendahuluan
Ikterus merupakan suatu gejala yang sering ditemukan pada Bayi Baru Lahir
(BBL). Menurut beberapa penulis
kejadian ikterus pada BBL berkisar 50 % pada bayi
cukup bulan dan 75 % pada bayi kurang bulan.
Perawatan Ikterus berbeda diantara negara tertentu, tempat pelayanan
tertentu dan waktu tertentu. Hal ini disebabkan adanya perbedaan pengelolaan
pada
BBL, seperti pemberian makanan dini, kondisi ruang perawatan, penggunaan
beberapa propilaksi pada ibu dan bayi, fototherapi dan transfusi pengganti.
Asuhan
keperawatan pada klien selama post partum juga terlalu singkat, sehingga klien
dan
keluarga harus dibekali pengetahuan, ketrampilan dan informasi tempat rujukan,
cara merawat bayi dan dirinya sendiri selama di rumah sakit dan perawatan di
rumah.
Perawat sebagai salah satu anggota tim kesehatan mempunyai peranan
dalam memberikan asuhan keperawatan secara paripurna.
Tulisan ilmiah ini bertujuan untuk :
1. Agar perawat memiliki intelektual dan mampu menguasai pengetahuan dan
keterampilan terutama yang berkaitan dengan asuhan keperawatan pada klien
dan keluarga dengan bayi Ikterus (Hiperilirubinemia),
2. Agar Perawat mampu mempersiapkan klien dan keluarga ikut serta dalam proses
perawatan selama di Rumah Sakit dan perewatan lanjutan di rumah.
Atas dasar hal tersebut diatas maka penulis menyusun tulisan ilmiah dengan
judul ”Asuhan Keperawatan dan Aplikasi Discharge Planing pada klien dengan Bayi
Hiperbilirubinemia”
KONSEP DASAR
A. Definisi
1. Ikterus Fisiologis
Ikterus pada bayi yang baru lahir tidak selamanya merupakan
kejadian patologis. Ikterus pada bayi adalah ikterus dengan kejadian yang
fisiologis yang biasanya memiliki ciri-ciri sebagai berikut :
- Timbul
pada hari kedua-ketiga
- Kadar
Biluirubin Indirek setelah 2 x 24 jam tidak melewati 15 mg% pada
neonatus cukup bulan dan 10 mg % pada kurang bulan.
- Kecepatan
peningkatan kadar Bilirubin tak melebihi 5 mg % per hari
Kadar Bilirubin direk kurang dari 1 mg %
- Ikterus
hilang pada 10 hari pertama .(Hanifa,
1987)
2. Ikterus Patologis /
Hiperbilirubinemia

Adalah suatu keadaan dimana kadar Bilirubin dalam darah mencapai suatu
nilai
yang mempunyai potensi untuk menimbulkan Kern Ikterus kalau tidak
ditanggulangi dengan baik, atau mempunyai hubungan dengan keadaan yang
patologis. Brown menetapkan
Hiperbilirubinemia bila kadar Bilirubin mencapai 12
mg% pada cukup bulan, dan 15 mg % pada bayi kurang bulan.
Utelly
menetapkan 10 mg% dan 15 mg%.
3. Kern Ikterus
Adalah suatu kerusakan otak akibat perlengketan Bilirubin
Indirek pada otak
terutama pada Korpus Striatum, Talamus, Nukleus
Subtalamus, Hipokampus,
Nukleus merah , dan Nukleus pada dasar Ventrikulus IV.
B. Etiologi
1. Peningkatan produksi :
Hemolisis, misal pada Inkompatibilitas yang terjadi bila
terdapat •
ketidaksesuaian golongan darah dan anak pada penggolongan
Rhesus
dan ABO.
Pendarahan tertutup misalnya pada trauma kelahiran. •
Ikatan Bilirubin dengan protein terganggu seperti gangguan
metabolik •
yang terdapat pada bayi Hipoksia atau Asidosis .
Defisiensi G6PD ( Glukosa 6 Phospat Dehidrogenase ). •
Ikterus ASI yang disebabkan oleh dikeluarkannya pregnan 3
(alfa), 20 •
(beta) , diol (steroid).
Kurangnya Enzim Glukoronil Transeferase , sehingga kadar
Bilirubin •
Indirek meningkat misalnya pada berat badan lahir rendah.
Kelainan kongenital (Rotor Sindrome) dan Dubin
Hiperbilirubinemia. •
2. Gangguan transportasi akibat penurunan kapasitas
pengangkutan misalnya
pada Hipoalbuminemia atau karena pengaruh obat-obat
tertentu misalnya
Sulfadiasine.
3. Gangguan fungsi Hati yang disebabkan oleh beberapa
mikroorganisme atau
toksin yang dapat langsung merusak sel hati dan darah
merah seperti infeksi
, Toksoplasmosis, Siphilis.
4. Gangguan ekskresi yang terjadi intra atau ekstra
Hepatik.
5. Peningkatan sirkulasi Enterohepatik misalnya pada Ileus
Obstruktif
C. Metabolisme Bilirubin
Segera setelah lahir bayi harus mengkonjugasi Bilirubin
(merubah
Bilirubin yang larut dalam lemak menjadi Bilirubin yang
mudah larut dalam
air) di dalam hati. Frekuensi dan jumlah konjugasi
tergantung dari besarnya
hemolisis dan kematangan hati, serta jumlah tempat ikatan
Albumin (Albumin
binding site).
Pada bayi yang normal dan sehat serta cukup bulan, hatinya
sudah
matang dan menghasilkan Enzim Glukoronil Transferase yang
memadai
sehingga serum Bilirubin tidak mencapai tingkat patologis.
©2003 Digitized by USU digital library 3
©2003 Digitized by USU digital library 4
D. Patofisiologi
Hiperbilirubinemia
Peningkatan kadar Bilirubin tubuh dapat terjadi pada
beberapa
keadaan. Kejadian yang sering ditemukan adalah apabila
terdapat
penambahan beban Bilirubin pada sel Hepar yang berlebihan.
Hal ini dapat
ditemukan bila terdapat peningkatan penghancuran
Eritrosit, Polisitemia.
Gangguan pemecahan Bilirubin plasma juga dapat menimbulkan
peningkatan kadar Bilirubin tubuh. Hal ini dapat terjadi
apabila kadar protein
Y dan Z berkurang, atau pada bayi Hipoksia, Asidosis.
Keadaan lain yang
memperlihatkan peningkatan kadar Bilirubin adalah apabila
ditemukan
gangguan konjugasi Hepar atau neonatus yang mengalami
gangguan ekskresi
misalnya sumbatan saluran empedu.
Pada derajat tertentu Bilirubin ini akan bersifat toksik
dan merusak
jaringan tubuh. Toksisitas terutama ditemukan pada
Bilirubin Indirek yang
bersifat sukar larut dalam air tapi mudah larut dalam
lemak. sifat ini
memungkinkan terjadinya efek patologis pada sel otak
apabila Bilirubin tadi
dapat menembus sawar darah otak. Kelainan yang terjadi
pada otak disebut
Kernikterus. Pada umumnya dianggap bahwa kelainan pada
saraf pusat
tersebut mungkin akan timbul apabila kadar Bilirubin
Indirek lebih dari 20
mg/dl.
Mudah tidaknya kadar Bilirubin melewati sawar darah otak
ternyata
tidak hanya tergantung pada keadaan neonatus. Bilirubin
Indirek akan
mudah melalui sawar darah otak apabila bayi terdapat
keadaan Berat Badan
Lahir Rendah , Hipoksia, dan Hipoglikemia ( Markum, 1991).
E. Penatalaksanaan
Medis
Berdasarkan pada penyebabnya, maka manejemen bayi
dengan
Hiperbilirubinemia diarahkan untuk mencegah anemia dan
membatasi efek
dari Hiperbilirubinemia. Pengobatan mempunyai tujuan :
1. Menghilangkan Anemia
2. Menghilangkan Antibodi Maternal dan Eritrosit
Tersensitisasi
3. Meningkatkan Badan Serum Albumin
4. Menurunkan Serum Bilirubin
Metode therapi pada Hiperbilirubinemia meliputi :
Fototerapi, Transfusi
Pengganti, Infus Albumin dan Therapi Obat.
Fototherapi
Fototherapi dapat digunakan sendiri atau dikombinasi
dengan
Transfusi Pengganti untuk menurunkan Bilirubin. Memaparkan neonatus pada
cahaya dengan intensitas yang tinggi ( a bound of
fluorencent light bulbs or
bulbs in the blue-light spectrum) akan menurunkan
Bilirubin dalam kulit.
Fototherapi
menurunkan kadar Bilirubin dengan cara memfasilitasi eksresi
Biliar Bilirubin tak terkonjugasi. Hal ini terjadi jika
cahaya yang diabsorsi
jaringan mengubah Bilirubin tak terkonjugasi menjadi dua
isomer yang
disebut Fotobilirubin. Fotobilirubin bergerak dari
jaringan ke pembuluh darah
melalui mekanisme difusi. Di dalam darah Fotobilirubin
berikatan dengan
Albumin dan dikirim ke Hati. Fotobilirubin kemudian
bergerak ke Empedu dan
diekskresi ke dalam Deodenum untuk dibuang bersama feses
tanpa proses
konjugasi oleh Hati (Avery dan Taeusch, 1984). Hasil
Fotodegradasi terbentuk
ketika sinar mengoksidasi Bilirubin dapat dikeluarkan
melalui urine.
Fototherapi mempunyai peranan dalam pencegahan peningkatan
kadar
Bilirubin, tetapi tidak dapat mengubah penyebab Kekuningan
dan Hemolisis
dapat menyebabkan Anemia.
©2003 Digitized by USU digital library 5
Secara umum Fototherapi harus diberikan pada kadar
Bilirubin Indirek
4 -5 mg / dl. Neonatus yang sakit dengan berat badan
kurang dari 1000 gram
harus di Fototherapi dengan konsentrasi Bilirubun 5 mg /
dl. Beberapa
ilmuan mengarahkan untuk memberikan Fototherapi
Propilaksis pada 24 jam
pertama pada Bayi Resiko Tinggi dan Berat Badan Lahir
Rendah.
Tranfusi Pengganti
Transfusi Pengganti atau Imediat diindikasikan adanya
faktor-faktor :
1. Titer anti Rh lebih
dari 1 : 16 pada ibu.
2. Penyakit Hemolisis berat pada bayi baru lahir.
3. Penyakit
Hemolisis pada bayi saat lahir perdarahan atau 24 jam pertama.
4. Tes Coombs Positif
5. Kadar Bilirubin Direk lebih besar 3,5 mg / dl pada
minggu pertama.
6. Serum Bilirubin Indirek lebih dari 20 mg / dl pada 48
jam pertama.
7. Hemoglobin kurang dari 12 gr / dl.
8. Bayi dengan Hidrops saat lahir.
9. Bayi pada
resiko terjadi Kern Ikterus.
Transfusi Pengganti digunakan untuk :
1. Mengatasi Anemia sel darah merah yang tidak Suseptible
(rentan)
terhadap sel darah merah terhadap Antibodi Maternal.
2. Menghilangkan sel darah merah untuk yang
Tersensitisasi (kepekaan)
3. Menghilangkan Serum Bilirubin
4. Meningkatkan Albumin bebas Bilirubin dan meningkatkan
keterikatan
dengan Bilirubin
Pada Rh Inkomptabiliti diperlukan transfusi darah golongan
O segera
(kurang dari 2 hari), Rh negatif whole blood. Darah yang
dipilih tidak
mengandung antigen A dan antigen B yang pendek. setiap 4 -
8 jam kadar
Bilirubin harus dicek. Hemoglobin harus diperiksa setiap
hari sampai stabil.
Therapi Obat
Phenobarbital dapat menstimulasi hati untuk
menghasilkan enzim
yang meningkatkan konjugasi Bilirubin dan mengekresinya.
Obat ini efektif
baik diberikan pada ibu hamil untuk beberapa hari sampai
beberapa minggu
sebelum melahirkan. Penggunaan penobarbital pada post natal
masih menjadi
pertentangan karena efek sampingnya (letargi).
Colistrisin dapat mengurangi Bilirubin dengan
mengeluarkannya lewat urine
sehingga menurunkan siklus Enterohepatika.
Penggolongan Hiperbilirubinemia berdasarkan saat terjadi
Ikterus:
1. Ikterus yang
timbul pada 24 jam pertama.
Penyebab Ikterus terjadi pada 24 jam pertama
menurut besarnya
kemungkinan dapat disusun sbb:
Inkomptabilitas darah Rh, ABO atau golongan lain. •
Infeksi Intra Uterin (Virus, Toksoplasma, Siphilis dan
kadang-kadang •
Bakteri)
Kadang-kadang oleh Defisiensi Enzim G6PD. •
Pemeriksaan yang perlu dilakukan:
Kadar Bilirubin Serum berkala. •
Darah tepi lengkap. •
Golongan darah ibu dan bayi. •
Test Coombs. •
Pemeriksaan skrining defisiensi G6PD, biakan darah atau
biopsi Hepar •
bila perlu.
2. Ikterus yang
timbul 24 - 72 jam sesudah lahir.
Biasanya Ikterus fisiologis. •
Masih ada kemungkinan inkompatibilitas darah ABO atau Rh,
atau •
golongan lain. Hal ini diduga kalau kenaikan kadar
Bilirubin cepat
misalnya melebihi 5mg% per 24 jam.
Defisiensi Enzim G6PD atau Enzim Eritrosit lain juga masih
mungkin. •
Polisetimia. •
Hemolisis perdarahan tertutup ( pendarahan subaponeurosis, •
pendarahan Hepar, sub kapsula dll).
Bila keadaan bayi baik dan peningkatannya cepat maka
pemeriksaan
yang perlu dilakukan:
Pemeriksaan darah tepi. •
Pemeriksaan darah Bilirubin berkala. •
Pemeriksaan skrining Enzim G6PD. •
Pemeriksaan lain bila perlu. •
3. Ikterus yang
timbul sesudah 72 jam pertama sampai akhir minggu
pertama.
Sepsis. •
Dehidrasi dan Asidosis. •
Defisiensi Enzim G6PD. •
Pengaruh obat-obat. •
Sindroma Criggler-Najjar, Sindroma Gilbert. •
4. Ikterus yang
timbul pada akhir minggu pertama dan selanjutnya:
Karena ikterus obstruktif. •
Hipotiroidisme •
Breast milk Jaundice. •
Infeksi. •
Hepatitis Neonatal. •
Galaktosemia. •
Pemeriksaan laboratorium yang perlu dilakukan:
Pemeriksaan Bilirubin berkala. •
Pemeriksaan darah tepi. •
Skrining Enzim G6PD. •
Biakan darah, biopsi Hepar bila ada indikasi. •
ASUHAN KEPERAWATAN
Untuk memberikan keperawatan yang paripurna digunakan
proses
keperawatan yang meliputi Pengkajian, Diagnosa
Keperawatan, Perencanaan,
Pelaksanaan dan Evaluasi.
A. Pengkajian
1. Riwayat orang tua :
Ketidakseimbangan golongan darah ibu dan anak seperti Rh,
ABO, Polisitemia,
Infeksi, Hematoma, Obstruksi Pencernaan dan ASI.
2. Pemeriksaan Fisik :
Kuning, Pallor Konvulsi, Letargi, Hipotonik, menangis
melengking, refleks menyusui
yang lemah, Iritabilitas.
3. Pengkajian Psikososial :
Dampak sakit anak pada hubungan dengan orang tua, apakah
orang tua merasa
bersalah, masalah Bonding, perpisahan dengan anak.
4. Pengetahuan Keluarga meliputi :
Penyebab penyakit dan pengobatan, perawatan lebih lanjut,
apakah mengenal
keluarga lain yang memiliki yang sama, tingkat pendidikan,
kemampuan
mempelajari Hiperbilirubinemia (Cindy Smith Greenberg.
1988)
B.
DiagnosaKeperawatan , Tujuan , dan Intervensi
Berdasarkan pengkajian di atas dapat diidentifikasikan
masalah yang
memberi gambaran keadaan kesehatan klien dan memungkinkan
menyusun
perencanaan asuhan keperawatan. Masalah yang
diidentifikasi ditetapkan sebagai
diagnosa keperawatan melalui analisa dan interpretasi data
yang diperoleh.
1. Diagnosa Keperawatan : Kurangnya volume cairan
berhubungan dengan tidak
adekuatnya intake cairan, fototherapi, dan diare.
Tujuan : Cairan tubuh neonatus adekuat
Intervensi : Catat jumlah dan kualitas feses, pantau
turgor kulit, pantau intake
output, beri air diantara menyusui atau memberi botol.
2. Diagnosa Keperawatan : Peningkatan suhu tubuh
(hipertermi) berhubungan
dengan efek fototerapi
Tujuan : Kestabilan suhu tubuh bayi dapat dipertahankan
°- 37 °Intervensi : Beri
suhu lingkungan yang netral, pertahankan suhu antara 35,5
C, cek tanda-tanda vital tiap 2 jam.
3. Diagnosa Keperawatan : Gangguan integritas kulit
berhubungan dengan
hiperbilirubinemia dan diare
Tujuan : Keutuhan kulit bayi dapat dipertahankan
Intervensi : Kaji warna kulit tiap 8 jam, pantau bilirubin
direk dan indirek , rubah
posisi setiap 2 jam, masase daerah yang menonjol, jaga
kebersihan kulit dan
kelembabannya.
4. Diagnosa Keperawatan : Gangguan parenting berhubungan
dengan pemisahan
Tujuan : Orang tua dan bayi menunjukan tingkah laku
“Attachment” , orang tua
dapat mengekspresikan ketidak mengertian proses Bounding.
Intervensi : Bawa bayi ke ibu untuk disusui, buka tutup
mata saat disusui, untuk
stimulasi sosial dengan ibu, anjurkan orangtua untuk
mengajak bicara anaknya,
libatkan orang tua dalam perawatan bila memungkinkan,
dorong orang tua
mengekspresikan perasaannya.
5. Diagnosa Keperawatan : Kecemasan meningkat berhubungan
dengan therapi
yang diberikan pada bayi.
Tujuan : Orang tua mengerti tentang perawatan, dapat
mengidentifikasi gejalagejala
untuk menyampaikan pada tim kesehatan
Intervensi :
Kaji pengetahuan keluarga klien, beri pendidikan kesehatan
penyebab dari kuning,
proses terapi dan perawatannya. Beri pendidikan kesehatan
mengenai cara
perawatan bayi dirumah.
6. Diagnosa Keperawatan : Risiko tinggi trauma berhubungan
dengan efek
fototherapi
Tujuan : Neonatus akan berkembang tanpa disertai
tanda-tanda gangguan akibat
fototherapi
Intervensi :
Tempatkan neonatus pada jarak 45 cm dari sumber cahaya,
biarkan neonatus dalam
keadaan telanjang kecuali mata dan daerah genetal serta
bokong ditutup dengan
kain yang dapat memantulkan cahaya; usahakan agar penutup
mata tida
menutupi hidung dan bibir; matikan lampu, buka penutup
mata untuk mengkaji
adanya konjungtivitis tiap 8 jam; buka penutup mata setiap
akan disusukan; ajak
bicara dan beri sentuhan setiap memberikan perawatan.
7. Diagnosa Keperawatan : Risiko tinggi trauma berhubungan
dengan tranfusi
tukar
Tujuan : Tranfusi tukar dapat dilakukan tanpa komplikasi
Intervensi :
Catat kondisi umbilikal jika vena umbilikal yang
digunakan; basahi umbilikal dengan
NaCl selama 30 menit sebelum melakukan tindakan, neonatus
puasa 4 jam
sebelum tindakan, pertahankan suhu tubuh bayi, catat jenis
darah ibu dan
Rhesus serta darah yang akan ditranfusikan adalah darah
segar; pantau tandatanda
vital; selama dan sesudah tranfusi; siapkan suction bila
diperlukan; amati
adanya ganguan cairan dan elektrolit; apnoe, bradikardi,
kejang; monitor
pemeriksaan laboratorium sesuai program.
C. Aplikasi
Discharge Planing.
Pertumbuhan dan perkembangan serta perubahan kebutuhan
bayi dengan
hiperbilirubin (seperti rangsangan, latihan, dan kontak
sosial) selalu menjadi
tanggung jawab orang tua dalam memenuhinya dengan
mengikuti aturan dan
gambaran yang diberikan selama perawatan di Rumah Sakit
dan perawatan lanjutan
dirumah.
Faktor yang harus disampaikan agar ibu dapat melakukan
tindakan yang terbaik
dalam perawatan bayi hiperbilirubinimea (Whaley &Wong,
1994):
1. Anjurkan ibu mengungkapkan/melaporkan bila bayi
mengalami gangguangangguan
kesadaran seperti : kejang-kejang, gelisah, apatis, nafsu
menyusui
menurun.
2. Anjurkan ibu untuk menggunakan alat pompa susu selama
beberapa hari untuk
mempertahankan kelancaran air susu.
3. Memberikan penjelasan tentang prosedur
fototherapi pengganti untuk
menurunkan kadar bilirubin bayi.
4. Menasehatkan pada ibu untuk mempertimbangkan
pemberhentian ASI dalam hal
mencegah peningkatan bilirubin.
5. Mengajarkan tentang perawatan kulit :
Memandikan dengan sabun yang lembut dan air hangat.
Siapkan alat untuk membersihkan mata, mulut, daerah
perineal dan daerah sekitar kulit yang rusak.
Gunakan pelembab kulit setelah dibersihkan untuk
mempertahankan
kelembaban kulit.
Hindari pakaian bayi yang menggunakan perekat di kulit.
Hindari penggunaan bedak pada lipatan paha dan tubuh
karena dapat •
mengakibatkan lecet karena gesekan
Melihat faktor resiko yang dapat menyebabkan kerusakan
kulit seperti •
penekanan yang lama, garukan .
Bebaskan kulit dari alat tenun yang basah seperti: popok
yang basah karena •
bab dan bak.
Melakukan pengkajian yang ketat tentang status gizi bayi
seperti : turgor •
kulit, capilari reffil.
Hal lain yang perlu diperhatikan adalah :
celsius) °1.
Cara memandikan bayi dengan air hangat (37 -38
2. Perawatan tali pusat / umbilikus
3. Mengganti popok dan pakaian bayi
4. Menangis merupakan suatu komunikasi jika bayi tidak
nyaman, bosan, kontak
dengan sesuatu yang baru
5. Temperatur / suhu
6. Pernapasan
7. Cara menyusui
8. Eliminasi
9. Perawatan sirkumsisi
10. Imunisasi
11. Tanda-tanda dan gejala penyakit, misalnya :
letargi ( bayi sulit dibangunkan ) •
demam ( suhu •
> celsius) °37
muntah (sebagian besar atau seluruh makanan sebanyak 2 x) •
diare ( lebih dari 3 x) •
tidak ada nafsu makan. •
12. Keamanan
Mencegah bayi dari trauma seperti; kejatuhan benda tajam
(pisau, •
gunting) yang mudah dijangkau oleh bayi / balita.
Mencegah benda
panas, listrik, dan lainnya •
Menjaga keamanan bayi selama perjalanan dengan menggunakan •
mobil atau sarana lainnya.
Pengawasan yang ketat terhadap bayi oleh saudara -
saudaranya. •
DAFTAR PUSTAKA
Bobak, J. (1985). Materity and
Gynecologic Care. Precenton.
Cloherty, P. John (1981). Manual of Neonatal Care. USA.
Harper. (1994). Biokimia. EGC, Jakarta.
Hazinki, M.F. (1984). Nursing Care of Critically Ill
Child. , The Mosby Compani
CV,
Toronto.
Markum, H. (1991). Ilmu Kesehatan Anak. Buku I. FKUI, Jakarta.
Mayers, M. et. al. ( 1995). Clinical Care Plans Pediatric
Nursing. Mc.Graw-Hill.
Inc.,
New York.
Pritchard, J. A. et. al. (1991). Obstetri Williams. Edisi
XVII. Airlangga University
Press,
Surabaya.
Susan, R. J. et. al. (1988). Child Health Nursing. California,
F. Patofisiologi Hiperbilirubinemia
Peningkatan kadar Bilirubin tubuh
dapat terjadi pada beberapa keadaan . Kejadian yang sering ditemukan adalah
apabila terdapat penambahan beban Bilirubin pada sel Hepar yang berlebihan. Hal
ini dapat ditemukan bila terdapat peningkatan penghancuran Eritrosit,
Polisitemia.
Gangguan pemecahan Bilirubin
plasma juga dapat menimbulkan peningkatan kadar Bilirubin tubuh. Hal ini dapat
terjadi apabila kadar protein Y dan Z berkurang, atau pada bayi Hipoksia,
Asidosis. Keadaan lain yang memperlihatkan peningkatan kadar Bilirubin adalah apabila
ditemukan gangguan konjugasi Hepar atau neonatus yang mengalami gangguan
ekskresi misalnya sumbatan saluran empedu.
Pada derajat tertentu Bilirubin
ini akan bersifat toksik dan merusak jaringan tubuh. Toksisitas terutama
ditemukan pada Bilirubin Indirek yang bersifat sukar larut dalam air tapi mudah
larut dalam lemak. sifat ini memungkinkan terjadinya efek patologis pada sel
otak apabila Bilirubin tadi dapat menembus sawar darah otak. Kelainan yang
terjadi pada otak disebut Kernikterus. Pada umumnya dianggap bahwa kelainan
pada saraf pusat tersebut mungkin akan timbul apabila kadar Bilirubin Indirek
lebih dari 20 mg/dl.
Mudah tidaknya kadar Bilirubin
melewati sawar darah otak ternyata tidak hanya tergantung pada keadaan
neonatus. Bilirubin Indirek akan mudah melalui sawar darah otak apabila bayi
terdapat keadaan Berat Badan Lahir Rendah , Hipoksia, dan Hipoglikemia ( AH,
Markum,1991