Rabu, 13 Juni 2012

Pemberian Obat Secara Parental



A.   Pendahuluan.
Parenteral-picture.jpgPemberian obat parental adalah pemberian obat secara injeksi. Jika obat dimasukkan melalui cara ini, maka ini merupakan prosedur invasive yang harus dilakukan dengan menggunakan teknik aseptic. Setelah jarum suntik memasuki kulit, terdapat resiko infeksi. Tiap suntikan memerlukan keterampilan tertentu yang memastikan obat dapat mencapai lokasi yang dituju. Efek obat yang diberikan perenteral memiliki efek yang cepat, tergantung pada laju penyerapan obat . perawat harus mengawasi respon klien terhadap obat.

B.   Peralatan
a.     images (1).jpgSpuit. Spuit terdiri atas tabung silinder dengan ujung uang didesain cocok dengan jarumnya.

b.     Jarum. Jarum tersedia dalam kemasan tersendiri agar dapat memilih jarum yang tepat untuk klien. Beberapa jarum telah terpasang pada spuit. Kebanyakan jarum terbuat dari stainless dan semuanya sekali pakai (disposable).
C.   Macam Pemberian obat secara parental
1.             Intradermal (ID) : Penyuntikan ke Kulit dibawah Epidermis.
Pada pemberian obat secara intradermal biasanya untuk tes kulit (seperti skrining tuberculin dan tes alergi). Karen obat bersifat poten, maka obat disuntikkan ke kulit di mana aliran darah tidak banyak sehingga obat diserap perlahan-lahan. Beberapa klien memberikan reaksi anafilaktik jika obat memasuki peredaran darah terlalu cepat. Tes kulit memerlukan perhatian perawat apakah area tidak mengalami luka atau terdapat perubahan warna. Area intradermal harus bebas dari luka dan relative tidak berbulu.
MD0552_img_23.jpgGunakan spuit tuberculin atau hipodermik kecil untuk tes kulit. Sudut untuk penyuntian injeksi intradermal adalah 5 -15 derajat, dengan posisi bevel diatas. Saat menyunyuntikan obat maka akan muncul bleb/benjolan kecil menyerupai gigitan nyamuk pada permukaan kulit. Jika bleb tidak muncul atau jika area terseut bardarah saat injeksi, maka kemungkinan obat masuk ke dalam jaringan subkutan. Pada kasus ini hasil yang didapat tidak akan valid.
Area yang lazim digunakan untuk injeksi ini adalah lengan bawah bagan dalam, dada bagian atas dan punggung pada area scapula.

Cara kerja :
1)       Siapkan peralatan antara lain :
§  Spuit ukuran 1 ml dengan kalibrasi ratusan ml
§  Jarum dengan ukuran sesuai kebutuhan, biasanya nomor 25, 26, atau 27 gauge, panjang ¼ sampai dengan 5/8
§  Kapas alcohol
§  Buku pengobatan dan instruksi pengobatan
2)     Beritahu pasien
3)      Siapkan area yang akan diinjeksi misalnya lengan kanan dan lakukan desinfeksi dengan kapas alcohol
4)     Pegang erat lengan pasien dengan tangan kiri anda dan tangan satunya memegang spuit kearah pasien
5)     Tusukkan spuit dengan sudut 15° pada epidermis kemudian diteruskan sampai dermis lalu dorong cairan obat. Obat ini akan menimbulkan tonjolan dibawah permukaan kulit
6)     Cabut spuit, usap secara pelan area penyuntikan dengan kapas antiseptic tanpa memberikan massage (message dapat menyebabkan obat masuk ke jaringan atau keluar melalui lubang injeksi)

2.      Subkutan (Sub-Q) : Penyuntikan ke Jaringan tepat di bawah Lapisan Dermis Kulit.
Injeksi subkutan adalah menyuntikan obat ke jaringan ikat longgar di bawah kulit. Karena jaringan subkutan tidak memiliki banyak pembuluh darah seperti otot, maka penyerapan obat lebih lama daripada penyuntikan Intramuskular. Namun, obat akan diserap penuh jika sirkulasi darah klien normal. Kerena jaringan subkutan memiliki reseptor nyeri, klien sering mengalami rasa tidak nyaman.
Daerah yang paling baik untuk penyuntikan subkutan adalah daerah lengan atas belakang, abdomen dari bawah iga sampai batas Krista iliaka dan an bagian paha atas depan.
X2604-I-20.pngDosis obat larut air yang dapat disuntikkan melalui subkutan sangat kecil (0,5 sampai 1 ml) karena jaringan ini sangat sensitive terhadap zat yang iritatif dan volume besar. Penimbunan obat didalam jaringan dapat menimbulkan abses steril, yang terlihat sebagai massa yang keras dan nyeri pada kulit.
Secara umum, untuk penyuntikan obat subkutan, jarum 25 gauge 1/2 inci disuntikan pada sudut 45 derajat, atau jarum 3/8 inci disuntikkan pada sudut 90 dereajat pada klien berat badan normal.

NB :
·         jika klien gemuk: perawat harus mencubit jaringan den menggunakan jarum yang lebih panjang untuk bisa memeasukkan obat melewati jaringan lemak bawah kulit.
·         Jika klien kurus ; pada keadaan ini biasanya tidak memiliki ruang untuk penyuntikan subkutan: abdomen atas biasanya merupakan daerah terbaik untuk kasus seperti ini. Untuk memaastikan obat mencapai subkutan, ikuti aturan  :
§  Jika anda dapat memegang 2 inci (5 cm) jaringan, suntikkan jarum pada sudut 90 derajat
§  Jika anda dapat memegang 1 inci jaringan (2,5 cm), suntikkan jarum pada sudut 45 derajat.

Cara kerja :
1)       Siapkan peralatan berupa :
§  Buku catatan rencana/order pengobatan
§  Vial atau ampul berisi obat yang akan diberikan
§  Spuit dan jarum steril ( spuit 2 ml, jarum ukuran 25 gauge, 5/81/2 inci )
§  Kapas antiseptic steril
§  Kassa steril untuk membuka ampul (bila diperlukan)
2)     Masukkan obat dari vial atau ampul ke dalam tabung spuit dengan cara yang benar
3)      Beritahu pasien dan atur dalam posisi yang nyaman ( jangan keliru pasien; bantu pasien pada posisi yang mana lengan,kaki, atau perut yang akan digunakan dapat rileks)
4)     Pilih area tubh yang tepat, kemudian usap dengan kapas antiseptic dari tengah keluar secara melingkar sekitar 5 cm menggunakan tangan yang tidak menginjeksi
5)     Siapkan spuit, lepas kap penutup secara tegak lurus sambil menunggu antiseptic kering dan keluarkan  udara dari spuit
6)     Pegang spuit dengan salah satu tangan antara jempol dan jari- jari pada area injeksi dengan telapak tangan menghadap ke arah samping atau atas untuk kemiringan 45° atau dengan tealapak tangan menghadap kebawah untuk kemiringan 45°. Gunakan tangan yang tida memegang spuit untuk mengangkat atau merentangkan kulit, lalu secara hati-hati dan mantap tangan yang lain menusukkan jarum. Lakukan aspirasi, bila muncul darah maka segera cabut spuit untuk dibuang dan diganti spuit dan obat baru. Bila tidak muncul darah, maka pelan-pelan dorong obat ke dalam jaringan
7)     Cabut spuit lalu usap dan masege pada area injeksi. Bila tempat penusukan mengeluarkan darah, maka tekan  area tusukan dengan kassa steril kering sampai perdarahan berhenti
8)     Buang spuit tanpa harus menutup jarum dengan kapnya (mencegah cidera bagi perawat) pada tempat pembuangan secara benar
9)     Cata tindakan yang tealah dilakukan
10)  Kaji keefektifan obat

3.      Intramuskular (IM) : Penyuntikan terhadap otot.
images.jpgPemberian obt secara intramuscular memiliki laju penyerapan obat yang lebih cepat karena daerah ini memiliki jaringan pembuluh darah yang banyak.. namun penyuntikan secara intramuscular dikaitkan dengan berbagi resiko. Oleh karena itu, sebelum penyuntikan intramuscular harus dipastikan bahwa injeksi yang akan dilakukan itu sanangat penting. Pada beberapa kasus seperti serangan influenza, pneumonia, tidak ada alternative lain selain jalur pemberian ini.
Gunakan jarum yang panjang dan gaugae yang besar melewati jaringan subkutan dan penetrasi jaringan otot yang dalam. Bera badan dan banyaknya jaringan lemak mempengaruhi pemilihan ukuran jarum suntik. Sebagai contoh , klien yang sangat gemuk biasanya memerlukan jarum dengan panjang 3 inci, sedangkan klien yang kurus hanya memerlukan jarum dengan panjang 1/2 sampai 1 inci. Sedangkan sudut penetrasi jarum untuk penyuntikan IM adalah 90 derajat.



            Karakteristik Dari Area Injeksi Intramuskular Dan Indikasi Penggunaannya
a.      Vastus Laeralis
§  Otot vastus lateralis merupakan area lain untuk injeksi. Ototnya tebal dan berkembang dengan baik berlokasi di anterolateral paha.
§  Tidak banyak terdapat pembuluh darah dan saraf besar
§  Penyerapan obat cepat
§  Paling sering digunakan pada bayi berumur kurang dari 12 bulan (untuk imunisasi)
§  Sering digunakan pada anak yang sudah besar atau balita untuk imunisasi.
b.      Ventrogluteal.
§  Areanya yang dalam, terletak jauh dari pembuluh darah dan saraf besar.
§  resiko terjadinya kontaminasi pada klien yang mengalami inkontinensia atau bayi lebih kecil
§  dapat dengan mudah ditemukan denagn acuan tulang yang jelas.
§  Area yang dipilih untuk injeksi obat (contoh antibiotic) dengan volume, viskositas, dan iritatif yang lebih tinggi pada dewasa, anak-anak dan bayi.

c.       Deltoid.
§  Dapat dicapai denagn sempurna, namun otot tidak berkembang sempurna pada semua klien.
§  Digunakan untuk obata dengan jumlah kecil
§  Tidak digunakan pada bayi atau anak kecil dengan otot yang belum berkembang,
§  Memiliki resiko untuk terjadinya trauma pada saraf radius dan ulnaris, atauarteri brakhialis.
§  Digunakan sebagai area untuk imunisasi pada balita, anak dan orang dewasa.
§  Area yang disarankan untuk veksinasi hepatitis B dan rabies.

d.      Dorsogluteal
Tidak untuk digunakan, karena dari hasil penelitian menunjukkkan bahwa lokasi saraf skiatik bervariasi dari satu orang kelainnya, jika jarum mengenai saraf skiatik, klien biasanya mengalami efek samping berupa kelumpuhan kaki parsial atau permanen.

Cara kerja injeksi IM :
1)       Pastikan tentang adanya order pengobatan
2)     Siapkan peralatan yang terdiri yang terdiri dari :
§  Kartu pengobatan/ rencana orer pengobatan
§  Obat steril dalam ampul atau vial
§  Spuit beserta jarum steril (ukuran tergantung dengan yang diprlukan)
§  Kapas pengusap dalam larutan antiseptic
§  Kaca sterl (bila diperlukan untuk membuka ampul)
3)      Siapkan obat dengan mengambil obat dari ampul atau vial sesuai dengan jumlah yang dikehendki
4)     Yakinkan bahwa pasien benar dan beritahu pasien tentang tindakan yang akan dilakukan, kemudian bantu mengatur posisi yang nyaman
5)     Buka pakaian, selimut atau kain yang menutupi area yang akan diinjeksi
6)     Tentukan lokasi penyuntikan, pilihlah area yang bebas dari lesi, nyeri tekan, bengkak, dan radang. Bersihkan kulit dengan pengusap antiseptic secara melingkar dari dalam keluar
7)     Siapkan spuit yang sudah berisi obat buka penutup jarumnya dengan hati-hati dan keluarkan udara dalam spuit
8)     Gunakan tangan yang tidak memegang spuit untuk membentangkan  kulit pada area yang akan ditusuk, pegang spuit antara jempol dan jari-jari kemudian tusukkan jarum secara tegak lurus pada sudut 90 °.
9)     Lakukan aspirasi untuk mengecek apakah jarum tidak mengenai pembuluh darah dengan cara menarik pengokang. Bila terhisap darah maka segera cabut spuit, buang dang anti yang baru. Bila tidak terhisap darah, maka perlahan-lahan masukkan obat dengan cara mendorong pengokang spuit.
10)  Bila obat sudah masuk semua maka segera cabut spuit dan lakukan massage pada area penusukan
11)    Rapikan pasien dan atur dalam posisi yang nyaman
12)   Buang spuit pada tempat yang disediakan, bereskan peralatan.
13)   Observasi keadaan pasien dan catat tindakan anda.


4.      Intravena (IV): Penyuntikan ke Dalam Pembuluh Vena.

Pada pemberian obat secara intravena harusnya perawat mengikuti metode sebgai berikut :
a.      Sebagai campuran dalm cairan intravena yang banyak.
b.      Dengan menyuntikkan bolus atau sedikit volume obat melalui jalur infuse intravena yang sudah ada atau akses intravena sementara (kunci heparine dan saline)
c.       Dengan infuse “piggyback” cairan yang mengandung obat dan sedikit cairan intravena melalui selang infuse yang sudah tersedia.
intravenous-injection.jpg
Cara kerja memberikan obat intravena :
1)       Pastikan tentang adanya order pengobatan
2)     Siapkan peralatan yang terdiri dari :
§  Kartu pengobatan/ rencana order pengobatan
§  Spuit steril yang berisi obat steril
§  Kapas pengusap dalam larutan antiseptic
§  Turniket.
3)      Yakinkan bahwa pasien benar dan beritahu pasien tentang tindakan yang akan dilakukan, kemudian bantu mengatur posisi yang nyaman
4)     Tentukan dan cari vena yang akan ditusuk ( misalnya vena basilica dan vena safilika, buka kain yang menutupi vena)
5)     Bila vena sudah ditemukan misal vena basilica, atur lengan lurus dan pasang turniket sampai vena benar-benar dapat dilihat an diraba kemudian bersihkan dengan kapas pengusap antiseptic.
6)     Siapkan spuit yang sudah berisi obat. Bila tabung masih terdapat udara, makda udara harus dikeluarkan.
7)     Secara pelan tusukkan jarum kedalam vena dengan posisi jarum sejajar dengan vena. Untuk mencegah vena tidak bergeser tangan yang tidak memegang spuit dapat digunakan untuk menahan vena sampai jarum masuk vena.
8)     lakukan aspirasi dengan cara menarik pengokang spuit. Bila terhisap darah, lepas turniket dan dorong obat pelan-pelan ke dalam vena.
9)     Setelah obat masuk semua, segera cabut spuit dan buang di tempat pembuangan sesuai prosedur
10)  Rapikan pasien dan atur dalam posisi yang nyaman
11)    Observasian keadaan klien dan catat tindakan klien.





Referensi :
§  Yasmin Asih, Ni Luh Gede, SKP, Teknik Dasar Pemberian Obat bagi Perawat, Cetakan 1:1994, EGC, Jakarta
§  Potter, Patricia A & Anne G.Perry, Fundamental Of Nursing (Fundamental Keperawatan), 7th edition, book 2 : 2010, Elsevier Inc, Salemba Medika , singapura-Jakarta.
§  www.google.com// swasthi-kinaryamandiri.co.cc. //Jenis Jarum Suntik// Gambar
§  www.google.com// herbaltumor.blogspot.com//Injeksi intradermal // Gambar
§  www.google.com// brooksidepress.org // Administer Intramuscular, Subcutaneous, and IntradermalInjections//gambar.


Jumat, 02 Desember 2011

Tata cara sholat jenazah

Tata cara sholat jenazah Posted by arif pada 15 April 2009 CARA SHOLAT JENAZAH Shalat jenazah merupakan salah satu praktik ibadah shalat yang dilakukan umat Muslim jika ada Muslim lainnya yang meninggal dunia. Hukum melakukan shalat jenazah ini adalah fardhu kifayah. Adapun syarat-syarat shalat jenazah adalah sebagai berikut: Shalat jenazah sama halnya dengan shalat yang lain, yaitu harus menutup aurat, suci dari hadats besar dan kecil, suci badan, pakaian dan tempatnya serta menghadap kiblat. Mayit sudah dimandikan dan dikafani. Letak mayit sebelah kiblat orang yang menyalatinya, kecuali kalau shalat dilakukan di atas kubur atau shalat gaib. A. Rukun dan Cara Mengerjakan Shalat Jenazah Shalat jenazah tidak disertai dengan rukuk dan sujud tidak dengan adzan dan iqmat. Setelah berdiri sebagaimana mestinya, maka: 1. Niat melakukan shalat mayit dengan 4 kali takbir. Niatnya: (untuk mayit laki-laki) Ushallii alaa hadzal mayyiti arba’a takbiiraatin fardhal kifaayati ma’muuman lillaahi ta’alaa. Artinya: Aku niat shalat atas mayit ini empat takbir fardhu kifayah karena Allah. Niat (untuk mayit perempuan) Ushallii alaa haadzihil mayyiti arba’a takbiiraatin fardhal kifaayati ma’muuman lillaahi ta’aalaa. 2. Setelah takbiratul ihram, yakni setelah mengucapkan “Allahu akbar” sambil meletakan tangan kanan di atas tangan kiri di atas perut (sidakep), kemudian membaca Al-Fatihah, setelah membaca Al-Fatihah lalu takbir “Allahu akbar” 3. Setelah takbir kedua, lalu membaca shalawat: Allahumma shalli ‘alaa Muhammad Artinya: “Ya Allah, berilah shalawat atas Nabi Muhammad” Lebih sempurna lagi jika membaca shalawat sebagai berikut: Allahumma shalli ‘alaa Muhammadin wa’alaa aali Muhammadin. Kamaa shallaita ‘alaa Ibrahim wa ‘allaa aali Ibrahim. Wa baarik ‘alaa Muhammadin wa ‘alaa aalii Muhammad. Kamaa baarakta ‘alaa Ibrahim wa ‘alaa aali Ibrahim fil-‘aalamiina innaka hamiidummajid. Artinya: “Ya Allah, berilah shalawat atas Nabi Muhammad dan atas keluarganya, sebagaimana Tuhan pernah memberi rahmat kepada Nabi Ibrahim dan keluarganya. Dan limpahkanlah berkah atas Nabi Muhammad dan para keluarganya, sebagaimana Tuhan pernah memberikan berkah kepada Nabi Ibrahim dan para keluarganya. DI seluruh ala mini Tuhanlah yang terpuji Yang Maha Mulia.” 4. Setelah takbir yang ketiga, kemudian membaca doa: Allahummaghfir lahuu warhamhu wa’aafihii wa’fu’anhu. Artinya: “Ya Allah, ampunilah dia, berilah rahmat dab sejahtera, maafkanlah dia.” Lebih sempurna lagi jika membaca doa: اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لَهُ وَارْحَمْهُ وَعَافِهِ وَاعْفُ عَنْهُ، وَأَآْرِمْ نُزُلَهُ، وَوَسِّعْ مَدْخَلَهُ، وَاغْسِلْهُ بِالْمَاءِ وَالثَّلْجِ وَالْبَرَدِ، وَنَقِّهِ مِنَ الْخَطَايَا آَمَا نَقَّيْتَ الثَّوْبَ اْلأَبْيَضَ مِنَ الدَّنَسِ، وَأَبْدِلْهُ دَارًا خَيْرًا مِنْ دَارِهِ، وَأَهْلاً خَيْرًا مِنْ أَهْلِهِ، وَزَوْجًا خَيْرًا مِنْ زَوْجِهِ، وَأَدْخِلْهُ الْجَنَّةَ، وَأَعِذْهُ مِنْ عَذَابِ الْقَبْرِ وَعَذَابِ النَّارِ Allahummaghfir lahu (lahaa) warhamhu (haa) wa’aafihii (haa) wa’fu ‘anhu (haa) wa akrim nuzulahu (haa) wawassa’madkhalahu (haa) waghsilhu (haa) bil-maa’I watstsalji wal-baradi wanaqqihi (haa) minal-khathaayaa kamaa yu-naqqatats-tsaubul-abyadhu minad-danasi waabdilhu (haa) daaran khairan min daarihi (haa) wa ahlan khairan min ahlihi (haa) wa zaujan khairan min zaujihi (haa) wa adkhilhul jannata wa a’iduhu min ‘adabil qabri wa ‘adabin nar (HR. Muslim 2/663) Artinya: “Ya Allah, ampunilah dia, dan kasihanilah dia, sejahterakan ia dan ampunilah dosa dan kesalahannya, hormatilah kedatangannya, dan luaskanlah tempat tinggalnya, bersihkanlah ia dengan air, salju dan embun. Bersihkanlah ia dari segala dosa sebagaimana kain putih yang bersih dari segala kotoran, dan gantikanlah baginya rumah yang lebih baik dari rumahnya yang dahulu, dan gantikanlah baginya ahli keluarga yang lebih baik daripada ahli keluarganya yang dahulu, dan peliharalah ia dari siksa kubur dan azab api neraka.” Keterangan: Jika mayit perempuan kata lahu menjadi lahaa. Jika mayit anak-anak doanya adalah: Allahummaj’alhu faratahn li abawaihi wa salafan wa dzukhran wa’izhatan wa’tibaaran wa syafii’an wa tsaqqil bihii mawaaziinahumma wafrighish-shabra ‘alaa quluubihimmaa wa laa taftinhumaa ba’dahu wa laa tahrimna ajrahu. Artinya: “Ya Allah, jadikanlah ia sebagai simpanan pendahuluan bagi ayah bundanya dan sebagai titipan, kebajikan yang didahulukan, dan menjadi pengajaran ibarat serta syafa’at bagi orangtuanya. Dan beratkanlah timbangan ibu-bapaknya karenanya, serta berilah kesabaran dalam hati kedua ibu bapaknya. Dan janganlah menjadikan fitnah bagi ayah bundanya sepeninggalnya, dan janganlah Tuhan menghalangi pahala kepada dua orangtuanya.” 5. Selesai takbir keempat, lalu membaca: Allahumma laa tahrimnaa ajrahu wa laa taftinnaa ba’dahu waghfir lanaa wa lahu. Artinya: “Ya Allah, janganlah kiranya pahalanya tidak sampai kepada kami (janganlah Engkau meluputkan kami akan pahalanya), dan janganlah Engkau member kami fitnah sepeninggalnya, dan ampunilah kami dan dia.” 6. Kemudian setelah salam membaca: As-sallamu ‘alaikum warahmatullahi wa barakaatuh. Artinya: “Keselamatan dan rahmat Allah semoga tetap pada kamu sekalian.” Keutamaan dilakukannya Shalat Jenazah Rasulullah saw. bersabda: “Barang siapa menghadiri jenazah sampai jenazah itu disalati, maka ia mendapatkan satu qirath. Dan barang siapa menghadirinya sampai jenazah itu dikuburkan, maka ia mendapatkan dua qirath. Ada yang bertanya: Apakah dua qirath itu? Rasulullah saw. bersabda: Sama dengan dua gunung yang besar.” (HR Abu Hurairah) Bahwa Rasulullah saw. bersabda: “Barang siapa menyalati jenazah, maka ia mendapatkan satu qirath. Jika ia menghadiri penguburannya, maka ia mendapatkan dua qirath. Satu qirath sama dengan gunung Uhud.” (HR Tsauban) NB: untuk menambah pemahaman tentang sholat jenazah saya link kan dengan video di youtube cara sholat jenazah untuk laki laki dan untuk perempuan agar suara tidak bercampur silahkan di “PAUSE” live musik di sidebar sebelah kanan anda. mudah mudahan bermanfaat Daftar Informasi : http://berdzikir.wordpress.com/2009/04/15/tata-cara-sholat-jenazah/#comment-1800

Sabtu, 26 November 2011

<a href="http://zawa.blogsome.com">Zawa Clocks</a>

KONSEP DEFEKASI (BUANG AIR BESAR)


KONSEP DEFEKASI (BUANG AIR BESAR)

Buang Air Besar
  • Buang air besar atau defekasi adalah suatu tindakan atau proses makhluk hidup untuk membuang kotoran atau tinja yang padat atau setengah-padat yang berasal dari sistem pencernaan (Dianawuri, 2009).

Fisiologi Buang Air Besar
  • Rektum biasanya kosong sampai menjelang defekasi. Seorang yang mempunyai kebiasaan teratur akan merasa kebutuhan membung air besar kira-kira pada waktu yang sama setiap hari. Hal ini disebabkan oleh refleks gastro-kolika yang biasanya bekerja sesudah makan pagi. Setelah makanan ini mencapai lambung dan setelah pencernaan dimulai maka peristaltik di dalam usus terangsang, merambat ke kolon, dan sisa makanan dari hari kemarinnya, yang waktu malam mencapai sekum mulai bergerak. Isi kolon pelvis masuk ke dalam rektum, serentak peristaltik keras terjadi di dalam kolon dan terjadi perasaan di daerah perineum. Tekanan intra-abdominal bertambah dengan penutupan glottis dan kontraksi diafragma dan otot abdominal, sfinkter anus mengendor dan kerjanya berakhir (Pearce, 2002).

Proses Buang Air Besar
  • Jenis gelombang peristaltik yang terlihat dalam usus halus jarang timbul pada sebagian kolon, sebaliknya hampir semua dorongan ditimbulkan oleh pergerakan lambat kearah anus oleh kontraksi haustrae dan gerakan massa. Dorongan di dalam sekum dan kolon asenden dihasilkan oleh kontraksi haustrae yang lambat tetapi berlangsung persisten yang membutuhkan waktu 8 sampai 15 jam untuk menggerakkan kimus hanya dari katup ileosekal ke kolon transversum, sementara kimusnya sendiri menjadi berkualitas feses dan menjadi lumpur setengah padat bukan setengah cair.

  • Pergerakan massa adalah jenis pristaltik yang termodifikasi yang ditandai timbulnya sebuah cincin konstriksi pada titik yang teregang di kolon transversum, kemudian dengan cepat kolon distal sepanjang 20 cm atau lebih hingga ke tempat konstriksi tadi akan kehilangan haustrasinya dan berkontraksi sebagai satu unit, mendorong materi feses dalam segmen itu untuk menuruni kolon.
  • Kontraksi secara progresif menimbulkan tekanan yang lebih besar selama kira-kira 30 detik, kemudian terjadi relaksasi selama 2 sampai 3 menit berikutnya sebelum terjadi pergerakan massa yang lain dan berjalan lebih jauh sepanjang kolon. Seluruh rangkaian pergerakan massa biasanya menetap hanya selama 10 sampai 30 menit, dan mungkin timbul kembali setengah hari lagi atau bahkan satu hari berikutnya. Bila pergerakan sudah mendorong massa feses ke dalam rektum, akan timbul keinginan untuk defekasi (Guyton, 1997).

Pengertian konstipasi
  • Konstipasi adalah suatu penurunan defekasi yang normal pada seseorang, disertai dengan kesulitan keluarnya feses yang tidak lengkap atau keluarnya feses yang sangat keras dan kering (Wilkinson, 2006).

  • Konstipasi adalah defekasi dengan frekuensi yang sedikit, tinja tidak cukup jumlahnya, berbentuk keras dan kering (Oenzil, 1995).

  • Konstipasi adalah kesulitan atau kelambatan pasase feses yang menyangkut konsistensi tinja dan frekuensi berhajat. Konstipasi dikatakan akut jika lamanya 1 sampai 4 minggu, sedangkan dikatakan kronik jika lamanya lebih dari 1 bulan (Mansjoer, 2000).

Penyebab konstipasi
  • Kurang gerak.
  • Kurang minum.
  • Kurang serat.
  • Sering menunda buang air besar.
  • Kebiasaan menggunakan obat pencahar.
  • Efek samping obat-obatan tertentu (antasid dan opiat) sampai adanya gangguan seperti usus terbelit.

Patofisiologi konstipasi
  • Defekasi menjadi sulit manakala frekuensi pergerakan usus berkurang, yang akhirnya akan memperpanjang masa transit tinja. Semakin lama tinja tertahan dalam usus, maka konsistensinya akan semakin keras, dan akhirnya membatu sehingga susah dikeluarkan (Arisman, 2004).

  • Rasa takut akan nyeri sewaktu berdefekasi juga dapat menjadi stimulus psikologis bagi seseorang untuk menahan buang air besar dan dapat menyebabkan konstipasi. Rangsangan simpatis atau saluran gastrointestinal menurunkan motilitas dan dapat memperlambat defekasi. Aktivitas simpatis meningkat pada individu yang mengalami stress lama. Obat-obatan tertentu misalnya antasid dan opiat juga dapat menyebabkan konstipasi (Corwin, 2000).

Cara mengurangi resiko konstipasi
  • Menyarankan untuk mengkonsumsi makanan berserat tinggi setiap hari,
  • seperti sayuran dan buah-buahan.
  • Menganjurkan untuk minum paling sedikit delapan gelas cairan (air, jus, teh, kopi) setiap hari untuk melembutkan feses.
  • Menganjurkan untuk tidak menggunakan laksatif secara rutin, karena bisa menyebabkan ketergantungan (Moore, 1997).

Pemeriksaan
  • Pemeriksaan dimulai pada rongga mulut meliputi gigi geligi, adanya luka pada selaput lendir mulut dan tumor yang dapat mengganggu rasa pengecap dan proses menelan.
  • Daerah perut diperiksa apakah ada pembesaran perut, peregangan atau tonjolan. Perabaan permukaan perut untuk menilai kekuatan otot perut. Perabaan lebih dalam dapat mengetahui massa tinja di usus besar, adanya tumor atau pelebaran nadi.
  • Pada pemeriksaan ketuk dicari pengumpulan gas berlebih, pembesaran organ, cairan dalam rongga perut atau adanya massa tinja. Pemeriksaan dengan stetoskop digunakan untuk mendengarkan suara gerakan usus besar serta mengetahui adanya sumbatan usus.
  • Pemeriksaan dubur untuk mengetahui adanya wasir, hernia, fissure (retakan) atau fistula (hubungan abnormal pada saluran cerna), juga kemungkinan tumor di dubur yang bisa mengganggu proses buang air besar. Colok dubur memberi informasi tentang tegangan otot, dubur, adanya timbunan tinja, atau adanya darah.
  • Pemeriksaan laboratorium dikaitkan dengan upaya mendeteksi faktor resiko konstipasi seperti gula darah, kadar hormon tiroid, elektrolit, anemia akibat keluarnya darah dari dubur. Anoskopi dianjurkan untuk menemukan hubungan abnormal pada saluran cerna, tukak, wasir, dan tumor.
  • Foto polos perut harus dikerjakan pada penderita konstipasi untuk mendeteksi adanya pemadatan tinja atau tinja keras yang menyumbat bahkan melubangi usus. Jika ada penurunan berat badan, anemia, keluarnya darah dari dubur atau riwayat keluarga dengan kanker usus besar perlu dilakukan koloskopi (Nri, 2004).

Terapi
  • Terapi diberikan sesuai penyebabnya dan pada lansia pengobatannya harus hati-hati. Untuk pengobatan biasanya dimulai fase 1 yaitu perubahan kebiasaan hidup meliputi latihan buang air besar secara teratur, dikombinasi olahraga, dan diet banyak cairan minimum 1500 cc/hari air/jus buah, makanan berserat sehari 20-30 gram.
  • Jika belum membaik, maka terapi memasuki fase 2, yaitu penggunaan obat-obatan laksatif atau supositoria dan enema serta terapi lainnya.
  • Jika fase 2 tidak efektif, maka perlu pemeriksaan radiologis, bahkan pada konstipasi tertentu perlu dilakukan tindakan operasi (Arief, 2008).

Patofisiologi hubungan serat dengan konstipasi
  • Diet berserat tinggi mempertahankan kelembaban tinja dengan cara menarik air secara osmotis ke dalam tinja dan dengan merangsang peristaltik kolon melalui peregangan. Dengan demikian, orang yang makan makanan rendah serat atau makanan yang sangat dimurnikan beresiko lebih besar mengalami konstipasi (Corwin, 2000).

Fisiologi pencernaan
Mengunyah
  • Pada umumnya otot-otot pengunyah dipersarafi oleh cabang motorik dari saraf ranial kelima, dan proses mengunyah dikontrol oleh nukleus dalam batang otak. Perangsangan formasio retikularis dekat pusat batang otak untuk pengecapan dan menimbulkan pergerakan mengunyah yang ritmis secara kontinu. Demikian pula, perangsangan area di hipotalamus, amigdala, dan bahkan di korteks serebri dekat area sensoris untuk pengecapan dan penghidu sering kali dapat menimbulkan gerakan mengunyah.

Menelan
  • Tahap volunter, bila makanan sudah siap untuk ditelan secara sadar makanan ditekan atau digulung kearah posterior ke dalam faring oleh tekanan lidah ke atas dan belakang terhadap palatum.
  • Tahap faringeal, sewaktu bolus makanan memasuki bagian posterior mulut dan faring, bolus merangsang daerah reseptor menelan di seluruh pintu faring, khususnya pada tiang-tiang tonsil, dan impuls-impuls berjalan ke batang otak untuk mencetuskan serangkaian kontraksi otot faringeal secara otomatis.
  • Tahap esopageal, esopagus terutama berfungsi untuk menyalurkan makanan dari faring ke lambung, dan gerakannya diatur secara khusus dari fungsi tersebut. Normalnya esopagus memperlihatkan dua tipe gerakan peristaltik. Peristaltik primer hanya merupakan kelanjutan dari gelombang peristaltik yang dimulai di faring dan menyebar ke esopagus selama tahap faringeal dan penelanan. Jika gelombang peristaltik primer gagal mendorong semua makanan yang telah masuk esopagus ke dalam lambung, maka terjadi gelombang peristaltik sekunder yang dihasilkan dari peregangan esopagus oleh makanan yang tertahan, dan terus berlanjut sampai semua makanan dikosongkan ke dalam lambung (Guyton, 1997).

Merumuskan Diagnosa Keperawatan


Merumuskan Diagnosa Keperawatan

Setelah perawat mengelompokan, mengidentifikasi, dan mevalidasi data-data yang signifikan, maka tugas perawat  pada tahap ini dalah merumuskan suatu diagnosa keperawatan. Diagnosa keperawatan dapat bersifat aktual, resiko, sindrom, kemungkinan dan welness.     (Carpentio 2000)
1.       Aktual: menjelaskan masalah nyata saat ini sesuai data klinik  yang ditemukan.
Syarat: menegakan diagnosa aktual harus ada unsur PES. Symptom (S) harus memenuhi kriteria mayor (80% - 100%) dan sebagian kriteria minor dari pedoman diagnosa NANDA.
Misalnya, ada data: muntah, diare dan turgor jelek selama 3 hari
Diagnosakekurangan volume cairan tubuh berhubungan dengan kehilangan cairan secara abnormal (Taylor, Lilis & LeMone,1988,p.283)
Jika suatu masalah semakin jelek dan mengganggu kesehatan “parineal” klien tersebut akan terjadi resiko kerusakan kulit dan di sebut sebagai:”rsiko diagnosa”
2.       Resiko: menjelaskan masalah kesehatan yang nyata akan terjadi jika tidak dilakukan intervensi (Keliat,1990)
Syarat :menegakan resiko diahnosa keperawatan adanya unsur PE (problem dan etiologi). Penggunaan istilah “resiko dan resiko tinggi” tergantung dari tingkat keparahan atau kerentanan terhadap masalah.
Diagnosa:”resiko gangguan integritas kulit berhubungan dengan diare yang terus menerus”
Jika perawat menduga adanya gangguan self-concept (konsep  diri), tetapi kurang data yang cukup mendukung (definisi karakteristik / tanda  dan gejala) untuk memastikan permasalahan, maka dapat dicantumkan sebagai:”kemungkin diagnosa”
3.       Diagnosa  keperawatan “wellness”
Diagnosa keperawatan wellness (sejahtera) adalah keputusan klinik tentang keadaan individu, keluarga, dan atau masyarakat dalam transisi dari tingkat sejahtera tertentu ke tingkat yang lebih tinggi.
Syarat:menegakan diagnosa keperawatan wellness harus ada unsur P (problem)
Ada dua kunci yang harus ada:
1)      Sesuatu yang harus menyenangkan pada tingakat kesejahteraan yang lebih tinggi
2)      Adanya status dan fungsi yang efekif
Pernyataan diagnosa keperawatan yang dilakukan yang dituliskan adalah” potensial untuk peningkatan....” perlu dicatat  bahwa diagnosa keperawatan kategori ini tidak mengandung unsur “faktor yang berhubungan”.
Contoh: potensial peningkatan hubungan dalam keluarga
                 Hasil yang diharapkan meliputi:
  Makan pagi bersama selama 5 hari / minggu
  Melibatkan anak dalam pengambilan keputusan keluarga
  Menjaga kerahasian setiap anggota keluarga
Dan dilanjutkan denganpemberian PENKES.
Pola Fungsional Kesehatan
Fungsi yang positif Pernyataan Pengakajian
1.       Pola manajemen persepsi kesehatan
Persepsi kesehatan yang positif
Manajemen Kesehatan yang efektif
2.       Pola nutrisi-metabolik
Pola nutrisi - metabolik yang efektif
3.       Pola eliminasi
Pola eliminasi yang efektif
4.       Pola aktivitas – gerak
Pola aktifitas-gerak efektif
5.       Pola istirahat-tidur
Pola istirahat-tidur yang efektif
6.       Pola kognitif-perseptual
Pola kognitif-perseptual yang positif
7.       Pola persepsi diri
Pola persepsi diri yang positif
8.       Pola hubungan peran
pola hubungan peran yang positif
9.       Pola seksual – reproduksi
Pola seksual- reproduksi yang positif
10.   Pola koping stres
Pola koping stres yang efektif
11.   Pola nilai - kepercayaan
Pola nilai-kepercayaan yang positif

UNSUR-UNSUR PENULISAN AKTUAL DAN RESIKO DIAGNOSA KEPERAWATAN
Setelah diagnosa keperawatan diputuskan, maka perlu dilakukan penulisan diagnosa sesuai standar yang ada. Diagnosa keperawatan dapat di tuliskan dua daftar pertanyaan sesuai standar yang ada (masalah dan penyebab) atau tiga (masalah-penyebab- tanda dan gejala)
1)      Masalah (Problem)
Tujuan penulisan pernyataan masalah adalah menjelaskan status kesehatan atau masalah kesehatan klien secara jelas dan singakat mungkin. Karena pada bagian ini dari diagnosa keperawatan mengidentifikasi apa yang tidak sehat oleh klien dan apa yang harus dirubah tentang status kesehatan klien dan juga memberikan pedoman terhadap tujuan daria asuhan keperawatan. Dengan menggunakan standar diagnosa keperawatan dari NANDA mempunyai keuntungan yang signifikan.
a.       Membantu perawat untuk berkomunikasi satu dengan yang lainnya dengan menggunakan istilah yang dimengerti secara umum.
b.      Memfasilitasi penggunaan komputer dalam keperawatan ,karena perawata akan mampu mengakses diagnosa keperawatan.
c.       Sebagai metode untuk mengidentifikasi perbedaan masalah kriteria pengkajian dan intervensi keperawatan dalam meningkatkan asuhan keperawatan.
2)      Etiologi (Penyebab)
Etiologi, faktor resiko dan pendukung (related to):
Etiologi atau penyebab adalah faktor klinik dan personal yang dapat merubah status kesehatan atau mempengaruhi perkembangan masalah. Hal ini bisa di sebut related to dari pernyataan diagnosa keperawatan (Carpenito 2000)
                Etiologi meng identifikasi fisiologis psikologis sosiologis spiritual  dan faktor-faktor yang dipercaya  yang berhubungan dengan masalah baik sebagai penyebab atau pun  faktor resiko. Karena etiologi mengidentifikasi faktor yang mendukung terhadap masalah kesehatan klien maka etiologi sebagai pedoman atau sasaran langsung dari intervensi keperawatan. Jika terjadi keselahan dalam menentukan penyebab, maka tindakan keperawatan menjadi tidak efektif dan efisien, misalnya, klien denghan Diabetes Melitus RS biasanya dengan hiperglikemia dan mempunyai riwayat yang tidak baik tentang pola makan dan pengobatan (insulin) didiagnosa dengan “ketidaktaatan”. Katakanlah ketidaktatan tersebut berhubungan dengan kurangnya pengetahuan klien dan tindakan keperawatan diperioritaskan mengajarkan klien cara mengatasi Diabetes Militus dan tidak berhasil, jika penyebab ketidaktaatan tersebut karena klien putus asa untuk hidup.
                Penulisan etiologi dari diagnosa keperawatan meliputi unsur PSMM
               
P   =  Patofisiologi dari penyakit
S    = Situational (keadaan l;ingkungan perawatan)
M   =Mediaction (pegobatan yang diberikan)
M   = Maturasi (tingkat kematangan / kedewasaan klien)

                            Etiologi, faktor penunjang dan resiko meliputi:
a.       Pathofisiologi:
Semua proses penyakit, akut atau kronis yang dapat mentebabkan atau mendukung masalah.misalnya masalah “powerlessness”
Penyebab yang umum:
Ketidakmampuan berkomunikasi (CVA, intubation)
Ketidakmampuan melakukan aktifitas sehari-hari (CVA, trauma, servical, nyeri, IMA)
Ketidakmampuan memenuhi tanggung jawabnya (pembedahan trauma dan arthrirtis)
b.      Situasional (personal, envirinment)
Kurangnya pengetahuan, isolasi sosial, kurangnya penjelasan dari petugas kesehatan, kurangnya partisipasi klien dalam mengambil keputusan, relokasi, kekurangmampuan biaya, pelecvehan seksual, pemindaha status sosial, dan perubahan personal teoriti.
c.       Medication (tretmen – related)
Keterbatasan institusi atau rumahsakit: tidak snaggup memberikan perawatan dan tidak ada kerahasiaan.
d.      Maturational
Adolescent:ketergantungan dalam kelompok, independen dan keluarga
Young adult :menikah, hamil, orangtua.
Dewasa tekanan karier, tanda-tanda pubertas
Eldrerly : kurangnya se3nsori ,motor, kehilangan, (uang, faktor yang lain)
3)      Definisi karakteristik
Data-data subyektif dan obyektif yang ditemukan sebagai komponen pendukung terhadap diagnosa keperawatan aktual dan resiko.
Defining karakteristik:
a)       Mayor (harus ada)
Menunjukan ketidak puasan tentang ketidakmampuannya mengontrol situasi.( misalnya: sakit, progonisis,perawatan, penyembuhan)
b)      Minor (mungkin ada / timbul)
Menolak atau ragu-ragu untuk berpartisipasi dalam mengambil keputusan Apatais, perilaku yang agresif, perilaku cemas,merusak, depresi.
Problem









Etiologi






Tanda dan Gejala (definisi karakteristik)
Identifikasi tentang sesuatu yang tidak sesuai/tidak sehattentang klien dan memerlukan perubahaan
  Jelas, pernyataan yang singkat tenetang masalah klien
Identifikasi faktor-faktor yang mendukung masalh respon klien
  Faktor penyebab atau pendukung



Identifikasi data subyektik dan obyektif sbg, tanda dari masalah keperawatan
  Definisi karakteristik (tand adan gejala yang spesifik)
Memerlukan perubahan klien (haraoan untuk perubahan)
  Kurangnya perawatan diri:mandi berhubungan dengan (related to)

Memrukan pengukuran keperawatan yang sesuai
  Takut jatuh di kamar mandi dan kegemukan ditandai dengan (“as manifested by”)
Memerlukan kriteria evaluasi
  Bau “pesing” rambut tidak pernah dikeramas.
“saya takut jalan dikamarmandi dan memecahkan barang”

KRITERIA PETUNJUK PENULISAN DIAGNOSA KEPERAWATAN
(Taylor, Lilis & LeMone, 1997)

1.       Tulislah masalah klien/ perubahan status klien.
2.       Pastikan bahwa masalah klien didahului adanya penyebab dan keduanya dihubungkan dengan kata”sehubungan denagn (relatred to)”.
3.       Definisi karakteristik jika diikuti dengan penyebab kemudian kemudiana di hubunglkan dengan kata” ditandai dengan (as manifefested by”).
4.       Tulislah istilah yang umum digunakan.
5.       Gunakan bahasa yang tidak memvonis.
6.       Pastikan bahwa pernyataan masalah menandakan apakah keadaan yang tidak sehat dari klien atau apa yang diharapkan klien bisa dirubah.
7.       Hindarkan menggunakan definisi karteristik, diagnosa medis atau sesuatu yang tidak bisa dirubah dalam pernyataan masalah.
8.       Baca ulang diagnosa keperawatan untuk memastikan bahwa pernyataan masalah bisa dicapai dan penyebabnya bisa diukur oleh perawat.

DAFTAR PUSTAKA
Carpenito, L. J. (2000). Nursing Diagnosa: Application to Clinical Practice, ed, J. B Lippincott Co., Philadelphia.
Keliat, B.A. (1990). Proses Keperawatan, Penerbit ,Arcan, Jakarta.
NANDA.(1987). Taxsonomi l, with Official Diagnostic Categories.NANDA. St. Louis.
Taylot, C., Lilies, C & LeMone, P. (1998). Fundamental of Nursing: the arts and science of nursing care, J.B. Lippncott Co., Philadelphia.

Sabtu, 05 November 2011