Minggu, 23 Oktober 2011
TUTORIAL PSIKOLOGI 8 - HUBUNGAN INDIVIDU DALAM KEPERAWATAN
1. Cara memngaplikasikan ilmu HAM dan komunikasi dlm keperawatan yaitu :
- tidak memandang siapa lwan bicara (menerima klien apa adanya)
- menciptakan rasa percaya terhadap lawan bicara agar komunikasi dapat berjalan dengan baik.
2. Manfaat perawat dalam mempelajari hubungan individu dalam keperawatan :
- memperluas wawasan
- menjalin silaturahmi
- mengoreksi diri
- mengetahui batasan-batan antara manusia
- menjadi tolak ukur peberian perawatan kepada klien
- memperbaiki mutu pelayanan.
3. cara menerapkan metode hubungan komunikasi terapeutik terhadap klien yg dirawat.
- mendenarakan dgn penu perhatian
- menerapkan metode-metode komunikasi keperawatan sesuai dgn ap yg diperlukan klien
- mengulangi perkataan klien
4. faktor yg mmpengaruhi dalam menerapkan komunikasi dan hubungan antarmanusia (HAM) :
- persepsi
- emosional
- lingkungan
- sikap
- minat
- kepribadian
- rasa percayadiri
TUTORIAL PSIKOLOG 7-PEMBENTUKAN SIKAP
1. Seorang perawat perlu memahami pembantukan siakp karena setiap perawat harulah senatiasa mampu
berinteraksi denagn kliennya. untuk memudahkan interaksi dengan perawtan klien, maka seorang perawat
hrus mengetahui bagaimanakah tingkah laku dan sikap kliennya agar perawat nantinya lebih mudah untuk
memutuskan atau mengambil tindakan dalam melakukan perawtan terhadap klien.
2. Hubungan atara PSIKOLOGI dg SIKAP yaitu dalam psikologi mampu mempengaruhi sikap seseorang, jika
psikologi orng tsb baik, mka sikapnyapun cenderung baik dmikian juga sebaliknya. mislanya jka seseorang
yg psikologinya terganggu/gangguan jiwa maka ia akan melakukan tindakan yg berbeda dgn manusia lainnya.
3. cara melakukan pengukuran sikap:
berinteraksi denagn kliennya. untuk memudahkan interaksi dengan perawtan klien, maka seorang perawat
hrus mengetahui bagaimanakah tingkah laku dan sikap kliennya agar perawat nantinya lebih mudah untuk
memutuskan atau mengambil tindakan dalam melakukan perawtan terhadap klien.
2. Hubungan atara PSIKOLOGI dg SIKAP yaitu dalam psikologi mampu mempengaruhi sikap seseorang, jika
psikologi orng tsb baik, mka sikapnyapun cenderung baik dmikian juga sebaliknya. mislanya jka seseorang
yg psikologinya terganggu/gangguan jiwa maka ia akan melakukan tindakan yg berbeda dgn manusia lainnya.
3. cara melakukan pengukuran sikap:
- Pengukuran secara langsung : subyek langsung ditanya pendapatnya mengenai bagaimankah sikapnya terhadap suatu masalah atau hal yg dihadapkan padanya.
- Pengukuran tdk langsung : Pengukuran sikap dg cara meggunakan tes tertulis dmana responden diminta untuk mnjawab secara langsung tntang sikap tertulis dgn mmberikan tanda pda jwaban yg tlah disediakan pd teks.
4. proses pembantukan sikap ad/ suatu thapan dimana prosesnya dipengaruhi oleh tingkat kemampuan dan
psikologi seseorang. orng yg mmiliki tingkat kmampuan yg tinggi, mka tingkat psikologisnya jga akan lbih
baik dan akan mmbentuk sikap yg lbih baik pula. pembentukan sikap seseorng jga dipengaruhi oleh
pengalamannya, dn dri pengalamanya tsb akan terjdi pembantukan sikap..
Rabu, 19 Oktober 2011
Keseimbangan Cairan dan Elektrolit
1.
Keseimbangan
cairan dan elektrolit cairan tubuh terbagi menjadi dua, yaitu:
a.
Ruang
intrasel (2/3 cairan tubuh)àbanyak di otot
b.
Ruang
ekstraseluler (1/3 cairan tubuh) yang dibagi lagi menjadi 3 bagian, yaitu:
·
Cairan
intravaskuler (3 L)
·
Cairan
interstisial (8 L)
·
Cairan
transeluler (paling sedikit)
2.
Pengaturan
kompartemen cairan tubuh
a.
Osmosis
+ osmolaritas (dari encer ke pekat)
b.
Difusi
(dari zat terlarut tinggi ke zat terlarut rendah)
c.
Filtrasi
(perpindahan dari tekanan tinggi ke tekanan yang lebih rendah)
d.
Pompa
Na dan K (merupakan salah satu bentuk transport aktif àmelawan gradient sehingga membutuhkan energy. Na bergerak
dari intrasel ke ekstrasel, K bergerak dari ekstrasel ke intraselàNa di ekstrasel lebih tinggi
3.
Gangguan
volume cairan
a.
Hipovolemia
Kehilangan air+elektrolit dengan proporsi yang sama. Hal ini berbeda dengan
dehidrasi (kehilangan air dengan peningkatan Na serum).
Contoh: diare, mual, faktor resiko DM insipidus
Penatalaksanaan: berikan larutan isotonic (RL, NaCl 0,9 %) untuk tatalaksana
kehilangan cairan dan bisa digunakan pada hipotensi. Jika sudah normal dapat
diberikan larutan hipotonik (NaCl 0.45%)
*syok hipovolemik terjadi jika volume cairan hilang >25% volume
intravascular
Tahapan syok hipovolemik:
1: volume darah hilang <=15%, dikompensasi dengan konstriksi pembuluh
darah. Tanda dan gejala: BP normal, RR normal, kulit pucat, ansietas (cemas
awal)
2: volume darah hilang 15-30% (750-1500mL). CO tidak dapat dikompensasi
dengan konstriksi pembuluh darah arteri. Tanda dan gejala: RR meningkat
(takikardi), BP normal, Tekanan diastolic meningkat, berkeringat (stimulasi
dari sistem saraf simpatik), ansietas ringan, kelelahan
3: volume darah hilang 30-45% (1500-2000mL). Tanda dan gejala: tekanan
sistolik turun sampai di bawah 100 mmHg, sudah ada tanda klasik syok
hipovolemik; takikardi>120x/ menit, takipneu>30x/menit, penurunan status
mental (ansietas, agitasi), keringat dingin, kulit pucat, penurunan sistolik.
4: kehilangan volume darah >40% (>2000Ml). Tanda dan gejala:
takikardi ekstrim, denyut nadi lemah, penurunan sistolik yang signifikan sampai
<=70 mmHg, kesadaran menurun, diaphoresis, dingin, ekstremitas sangat pucat.
b.
Hipervolemia
Na+ dan air tertahan dengan proporsi yang kurang lebih sama dengan di dalam
CES.
Penyebab: gagal ginjal, gagal jantung, sirosis hepatis
Manifestasi klinis: takikardi; peningkatan BP, vena sentral, BB, jumlah
urin; napas pendek & mengi
Intervensi: mencegah fluid volume electrolyte (FVE) dengan diet natrium,
mendeteksi FVE (memantau asupan, istirahat, dll), berikan posisi fowler tinggi
agar cairan ke jantung dan pre load berkurang.
Edema dapat terjadi akibat perluasan cairan di ruang interstisial
(penumpukan Na+)à berikan terapi diuretik
c.
Hiponatremia
Penyebab: Syndrome insufficiency ADH
(SIADH), hiperglikemi, masukan cairan secara perenteral yang < elektrolit
meningkat, penggunaan air ledeng untuk enema atau irigasi gaster
Manifestasi klinis: mual, kram perut, neuropsikiatrik, anoreksia, perasaan
lelah.
*Suatu kondisi dikatakan terjadi peningkatan TIK jika kadar Na serum <
115 mEq/ L
Ciri-ciri peningkatan TIK: letargi, confuse, kedutan otot, kelemahan fokal,
hemiparase, papil edema, kejang
Penatalaksanaan: mengganti Na+ (oral, nasogastrik), berikan larutan
isotonic jika tidak dapat menggunakan Na+, pembatasan air lebih aman pada
pasien dengan volume cairan normal.
d.
Hipernatremia
(kadar Na> 145 mEq/L)
Penyebab: kehilangan air pada pasien yang tidak sadar karena tidak dapat
berespon terhadap rangsang haus, Na+ yang tidk proporsional (berlebih),
diabetes insipidus (jika pasien tidak berespon terhadap rasa haus, stroke ,
hampir tenggelam di laut, kegagalan sistem penyesuaian, sistem hemodialisis/
hemodialisis peritoneal, pemberian cairan salin intravena.
Manifestasi klnis: neurologis, dehidrasi seluler,gelisah, lemah (pada
hipernatremi sedang), disorientasi, halusinasi, delusi (pada hipernatremi
berat), kerusakan otak permanen (pada hipernatremi sangat berat)
Intervensi: penurunan kadar Na serum
secara bertahap dengan infus larutan isotonic, lebih aman diberikan larutan
hipotonik/ isotonic daripada dekstrose karena dekstrose menurunkan kadar
Na+ secara cepat (penurunan Na+ plasma
maksimal 2 mEq/ jam), koreksi hipernatremi secara menetap.
e.
Hipokalemia
(kehilangan muntah dan penghisapan gastric)
Hipokalemia biasanya menyebabkan alkalosis dan demikian sebaliknya. Setiap
peningkatan pH0,1 artinya peningkatan kalium serum 0,5. Hipokalemia biasanya
terjadi pada diare, ileostomi baru, adenoma villous (tumor pada saluran GI),
dan bisa juga terjadi pada pasien yang mendapat asupan karbohidrat parenteral.
Hipokalemia berat dapat menyebabkan henti jantung dan henti napas.
Tanda-tanda klinis jarang terlihat sebelum kadar kalium serum turun di
bawah 3, kecuali tingkat kehilangannya cepat.
Manifestasi klinis: keletihan, mual, muntah, kelemahan otot, kram kaki,
penurunan motilitas usus, parestesia, disritmia, peningkatan sensitifitas
terhadap digitalis.
Hipokalemia berkelanjutan dapat menyebabkan ketidakmampuan ginjal
memekatkan urinàurin encer+rasa haus berlebih. Selain itu deplesi kalium
bisa menekan pelepasan insulin àintoleransi glukosa.
Intervensi:
·
Pencegahan:
K+ diperbaiki à40-80 mEq/hari, pasien beresiko diperbaiki 50-100
mEq/hari
Tambahan kalium oral dapat menyebabkan lesi usus kecil. Oleh karena itu,
pasien harus dikaji + diingatkan tentang distensi abdomen, nyeri, dan
perdarahan.
Makanan
yang banyak mengandung kalium antara lain: pisang, kismis, jeruk, daging, susu,
tomat segar, kentang, miju2, jus buah.
A. Komposisi Tubuh Manusia
Tubuh manusia terdiri atas cairan dan zat padat. Empat puluh persen tubuh manusia merupakan zat padat seperti protein, lemak, mineral, karbohidrat, material organik dan non organic. Enampuluh persen sisanya adalah cairan. Dari 60% komposisi cairan, 20 % merupakan cairan ekstraseluler dan 40% merupakan cairan intraselluler. Empat persen cairan ekstraseluler berada dalam pembuluh darah berupa plasma darah dan 16% terdapat di interstisial. Perbedaan yang penting pada plasma dan cairan interstisial adalah adanya protein yang larut dalam plasma sedangkan di interstisial tidak ada.
B. Pergerakan Cairan Tubuh
Pergerakan antar kompartemen (intrasel, plasma dan interstisial) di kontrol oleh dua kekuatan yaitu: tekanan hidrostatik dan tekanan osmotic. Tekanan hidrostatik merupakan tekanan yang mendorong air untuk keluar dari plasma ke interstisial. Tekanan tersebut sekitar 282 mOsmle/L. Tekanan osmotic merupakan tekanan yang mempertahankan air tetap dalam plasma dan menarik air dari interstisial. Tekanan osmotic sekitar 281 mOsmole/L.
C. Keseimbangan Cairan Dan Konsentrasi Zat Terlarut
Total konsentrasi zat terlarut di interstisial sedikit lebih rendah dibandingkan dengan plasma. Sedangkan konsentrasi air dalam interstisial lebih tinggi daripada plasma. Perbedaan tersebut diatas karena adanya protein dalam plasma.Memahami konsep keseimbangan cairan dan konsentrasi zat terlarut pada setiap kompartemen ini juga akan memudahkan kita memahami mekanisme terjadinya edema. Edema diakibatkan karena ketidakseimbangan pergerakan cairan. Hal ini terjadi karena:
1. Protein plasma keluar dari sirkulasi saat dinding pembuluh darah rusak.
2. Pada penyakit hati dimana terjadi penurunan sintesis protein plasma
3. Peningkatan tekanan hidrostatik kapiler
4. Obstruksi pembuluh limfatik
5. Reaksi peradangan, respon terhadap infeksi, atau kerusakan jaringan sehingga kapiler menjadi lebih permeabel.
AIR
Air berikisar antara 47-77%. Air berungsi:
1. Untuk transportasi nutriens dan zat buangan
2. Sebagai media reaksi kimia
3. Sebagai pelarut elektrolit dan zat terlarut lainnya
4. Membantu mempertahankan suhu tubuh
5. Untuk transport enzim, hormon, sel darah dan zat-zat lain
Elektrolit
Elektrolit adalah senyawa yang dapat menjadi ion saat larut. Ion yang bermuatan positif disebut kation sedangkan ion bermuatan negatif disebut anion. Non elektrolit adalah zat yang saat larut tidak membentuk ion.
Natrium/Sodium
Konsentrasi natrium di ekstrasel lebih tinggi dari intrasel. Natrium merupakan ion yang sangat penting dalam pengaturan tekanan osmotik. Konsentrasi natrium di cairan ekstrasel sekitar 142 mEq/L. Jika keadaan konsentrasi Na rendah dari nilai normalnya disebut dengan hiponatremi sedangkan konsentrasi yang tinggi disebut hipernatremi. Didalam tubuh Natrium berfungsi untuk:
1. Membantu kontrol kontraksi otot
2. Membantu mempertahankan iritabilitas neuromuskuler
3. Mempertahankan volume darah
4. Pengaturan volume cairan ekstraseluler
5. Stimulasi konduksi impuls syaraf.
Kalium/Potassium
Sekitar 4,5 mEq/L di cairan ekstrasel, konsentrasi intrasel lebih tinggi daripada ekstrasel. Konsentrasi lebih itnggi dari normal disebut hiperkalemi sedangkan konsentrasi lebih rendah disebut hipokalemi. Kalium berfungsi:
1. Mengatur keseimbangan cairan dan elektrolit di intrasel
2. Membantu peningkatan transmisi impuls syaraf terutama di jantung
3. Membantu transformasi karbohidrat menjadi energi
4. Membantu keseimbangan asam basa melalui pertukaran dengan ion hidrogen
Elektrolit Lain
o Magnesium
o Klorida
o Hidrogen
o Klasium
D. Hormon Yang Terkait
Hormon yang terkait dalam pengaturan keseimbangan cairan dan elektrolit diantaranya adalah ADH, Aldosteron dan Atrial Natriuretic Peptide.
E. PENGATURAN KESEIMBANGAN ASAM BASA
Asam adalah Molekul yang mengandung atom hidrogen yang dapat melepaskan ion hidrogen dalam larutan. Contohnya adalah HCL dan H2CO3. Basa adalah Ion atau molekul yang dapat menerima ion hidrogen seperti Ion Bikarbonat dan HPO4.
Tubuh manusia terdiri atas cairan dan zat padat. Empat puluh persen tubuh manusia merupakan zat padat seperti protein, lemak, mineral, karbohidrat, material organik dan non organic. Enampuluh persen sisanya adalah cairan. Dari 60% komposisi cairan, 20 % merupakan cairan ekstraseluler dan 40% merupakan cairan intraselluler. Empat persen cairan ekstraseluler berada dalam pembuluh darah berupa plasma darah dan 16% terdapat di interstisial. Perbedaan yang penting pada plasma dan cairan interstisial adalah adanya protein yang larut dalam plasma sedangkan di interstisial tidak ada.
B. Pergerakan Cairan Tubuh
Pergerakan antar kompartemen (intrasel, plasma dan interstisial) di kontrol oleh dua kekuatan yaitu: tekanan hidrostatik dan tekanan osmotic. Tekanan hidrostatik merupakan tekanan yang mendorong air untuk keluar dari plasma ke interstisial. Tekanan tersebut sekitar 282 mOsmle/L. Tekanan osmotic merupakan tekanan yang mempertahankan air tetap dalam plasma dan menarik air dari interstisial. Tekanan osmotic sekitar 281 mOsmole/L.
C. Keseimbangan Cairan Dan Konsentrasi Zat Terlarut
Total konsentrasi zat terlarut di interstisial sedikit lebih rendah dibandingkan dengan plasma. Sedangkan konsentrasi air dalam interstisial lebih tinggi daripada plasma. Perbedaan tersebut diatas karena adanya protein dalam plasma.Memahami konsep keseimbangan cairan dan konsentrasi zat terlarut pada setiap kompartemen ini juga akan memudahkan kita memahami mekanisme terjadinya edema. Edema diakibatkan karena ketidakseimbangan pergerakan cairan. Hal ini terjadi karena:
1. Protein plasma keluar dari sirkulasi saat dinding pembuluh darah rusak.
2. Pada penyakit hati dimana terjadi penurunan sintesis protein plasma
3. Peningkatan tekanan hidrostatik kapiler
4. Obstruksi pembuluh limfatik
5. Reaksi peradangan, respon terhadap infeksi, atau kerusakan jaringan sehingga kapiler menjadi lebih permeabel.
AIR
Air berikisar antara 47-77%. Air berungsi:
1. Untuk transportasi nutriens dan zat buangan
2. Sebagai media reaksi kimia
3. Sebagai pelarut elektrolit dan zat terlarut lainnya
4. Membantu mempertahankan suhu tubuh
5. Untuk transport enzim, hormon, sel darah dan zat-zat lain
Elektrolit
Elektrolit adalah senyawa yang dapat menjadi ion saat larut. Ion yang bermuatan positif disebut kation sedangkan ion bermuatan negatif disebut anion. Non elektrolit adalah zat yang saat larut tidak membentuk ion.
Natrium/Sodium
Konsentrasi natrium di ekstrasel lebih tinggi dari intrasel. Natrium merupakan ion yang sangat penting dalam pengaturan tekanan osmotik. Konsentrasi natrium di cairan ekstrasel sekitar 142 mEq/L. Jika keadaan konsentrasi Na rendah dari nilai normalnya disebut dengan hiponatremi sedangkan konsentrasi yang tinggi disebut hipernatremi. Didalam tubuh Natrium berfungsi untuk:
1. Membantu kontrol kontraksi otot
2. Membantu mempertahankan iritabilitas neuromuskuler
3. Mempertahankan volume darah
4. Pengaturan volume cairan ekstraseluler
5. Stimulasi konduksi impuls syaraf.
Kalium/Potassium
Sekitar 4,5 mEq/L di cairan ekstrasel, konsentrasi intrasel lebih tinggi daripada ekstrasel. Konsentrasi lebih itnggi dari normal disebut hiperkalemi sedangkan konsentrasi lebih rendah disebut hipokalemi. Kalium berfungsi:
1. Mengatur keseimbangan cairan dan elektrolit di intrasel
2. Membantu peningkatan transmisi impuls syaraf terutama di jantung
3. Membantu transformasi karbohidrat menjadi energi
4. Membantu keseimbangan asam basa melalui pertukaran dengan ion hidrogen
Elektrolit Lain
o Magnesium
o Klorida
o Hidrogen
o Klasium
D. Hormon Yang Terkait
Hormon yang terkait dalam pengaturan keseimbangan cairan dan elektrolit diantaranya adalah ADH, Aldosteron dan Atrial Natriuretic Peptide.
E. PENGATURAN KESEIMBANGAN ASAM BASA
Asam adalah Molekul yang mengandung atom hidrogen yang dapat melepaskan ion hidrogen dalam larutan. Contohnya adalah HCL dan H2CO3. Basa adalah Ion atau molekul yang dapat menerima ion hidrogen seperti Ion Bikarbonat dan HPO4.
Kesimpulan
Pengaturan keseimbangan cairan perlu memperhatikan 2 (dua) parameter penting, yaitu:
volume cairan ekstrasel dan osmolaritas cairan ekstrasel. Ginjal mengontrol volume cairan
ekstrasel dengan mempertahankan keseimbangan garam dan mengontrol osmolaritas cairan
ekstrasel dengan mempertahankan keseimbangan cairan. Ginjal mempertahankan
keseimbangan ini dengan mengatur keluaran garam dan air dalam urin sesuai kebutuhan untuk
mengkompensasi asupan dan kehilangan abnormal dari air dan garam tersebut.
Selasa, 27 September 2011
Perkembangan pada masa Lansia
PERUBAHAN FISIK PADA MASA TUA
Perkembangan fisik pada masa lansia terlihat pada
perubahan perubahan fisiologis yang bisa dikatakan mengalami kemunduran,
perubahan perubahan biologis yang dialami pada masa lansia yang terlihat adanya
kemunduran tersebut sangat berpengaruh terhadap kondisi kesehatan dan terhadap
kondisi psikologis.
Perkembangan masa dewasa akhir atau usia lanjut, membawa
penurunan fisik yang lebih besar dibandingkan dengan periode periode usia
sebelumnya. Kita akan mencatat rentetan perubahan perubahan dalam penurunan
fisik yang terkait dengan penuaan, dengan penekanan pentingnya perkembangan
perkembangan baru dalam penelitian proses penuaan yang mencatat bahwa kekuatan
tubuh perlahan lahan menurun dan hilangnya fungsi tubuh kadangkala dapat
diperbaiki.
Terdapat sejumlah perubahan fisik yang terjadi pada
periode lansia menurut Elida Prayitno yaitu:
- Perubahan
fisik bukan lagi pertumbuhan tetapi pergantian dan perbaikan sel-sel tubuh.
- Pertumbuhan
dan reproduksi sel-sel menurun.
- Penurunan
Dorongan Seks.
Pada umumnya perubahan pada masa lansia meliputi
perubahan dari tingkat sel sampai kesemua sistem organ tubuh, diantaranya
sistem pernafasan, pendengaran, penglihatan, kardiovaskuler, sistem pengaturan
tubuh, muskuloskeletal, gastrointestinal, genito urinaria, endokrin dan
integumen.
a. Sistem
pernafasan pada lansia.
Kapasitas
pernafasan pada lansia akan menurun pada usia 20 hingga 80 tahun sekalipun
tanpa penyakit. Paru paru kehilangan elatisitasnya, dada menyusut, dan
diafragma melemah. Meskipun begitu berita baiknya adalah bahwa orang dewasa
lanjut dapat memperbaiki fungsi paru paru dengan latihan latihan memperkuat
diafragma.
b. Perubahan
Sistem persyarafan.
1) Cepatnya
menurunkan hubungan persyarafan.
2) Lambat
dalam merespon dan waktu untuk berfikir.
3) Mengecilnya
syaraf panca indera.
4) Berkurangnya
penglihatan, hilangnya pendengaran, mengecilnya syaraf pencium & perasa
lebih sensitif terhadap perubahan suhu dengan rendahnya ketahanan terhadap
dingin.
5) Otak dan sistem syaraf. Aspek
yang signifikan dari proses penuaan mungkin adalah bahwa neuron neuron itu
tidak mengganti dirinya sendiri. Meskipun demikian otak dapat cepat sembuh dan
memperbaiki kemampuannya, hanya kehilangan sebagian kecil dari kemampuannya
untuk bisa berfungsi di masa dewasa akhir.
6) Perkembangan Sensori.
Perubahan sensori fisik masa dewasa
akhir melibatkan indera penglihatan,pendengaran, perasa, pembau, dan indera
peraba. Pada masa dewasa akhir penurunan indera penglihatan bisa mulai
dirasakan dan terjadi mulai awal masa dewasa tengah. Adaptasi terhadap gelap
lebih menjadi lambat, yang berarti bahwa orang rang lanjut usia membutuhkan
waktu lama untuk memulihkan kembali penglihatan mereka ketika keluar dari
ruangan yang terang menuju ke tempat yang agak gelap.
c. Perubahan
panca indera yang terjadi pada lansia.
Ciri
– ciri perubahan pada indra masa lansia salahsatunya sekresi saliva berkurang
mengakibatkan pengeringan rongga mulut. Papil-papil pada permukaan lidah
mengalami atrofi sehingga terjadi penurunan sensitivitas terhadap rasa terutama
rasa manis dan asin. Keadaan ini akan mempengaruhi nafsu makan, dan dengan
demikian asupan gizi juga akan terpengaruh. Keadaan ini mulai pada usia 70
tahun. Perubahan indera penciuman, penglihatan dan pendengaran juga mengalami
penurunan fungsi seiring dengan bertambahnya usia.
d. Perubahan
cardiovaskuler pada usia lanjut.
Tidak
lama berselang terjadi penurunan jumlah darah yang dipompa oleh jantung dengan
seiringnya pertambahan usia sekalipun pada orang dewasa yang sehat.
Bagaimanapun, kita mengetahui bahwa ketika sakit jantung tidak muncul, jumlah
darah yang dipompa sama tanpa mempertimbangakan usia pada masa dewasa.
Kenyataannya para ahli penuaan berpendapat bahwa jantung yang sehat dapat
menjadi lebih kuat selama kita menua dengan kapasitas meningkat bukan menurun.
e. Sistem genito
urinaria.
1) Ginjal,
Mengecil dan nephron menjadi atropi, aliran darah ke ginjal menurun sampai 50
%, penyaringan diglomerulo menurun sampai 50 %, fungsi tubulus berkurang
akibatnya kurangnya kemampuan mengkonsentrasi urin, berat jenis urin menurun
proteinuria ( biasanya + 1 ) ; BUN meningkat sampai 21 mg % ; nilai ambang
ginjal terhadap glukosa meningkat.
2) Vesika
urinaria / kandung kemih, Otot otot menjadi lemah, kapasitasnya menurun sampai
200 ml atau menyebabkan frekwensi BAK meningkat, vesika urinaria susah
dikosongkan pada pria lanjut usia sehingga meningkatnya retensi urin.
3) Pembesaran
prostat ± 75 % dimulai oleh pria usia diatas 65 tahun.
4) Atropi
vulva.
5) Vagina,
Selaput menjadi kering, elastisotas jaringan menurun juga permukaan menjadi
halus, sekresi menjadi berkurang, reaksi sifatnya lebih alkali terhadap
perubahan warna.
6) Daya
sexual, Frekwensi sexsual intercouse cendrung menurun tapi
kapasitas untuk melakukan dan menikmati berjalan terus.
f. Sistem
endokrin / metabolik pada lansia.
1) Produksi
hampir semua hormon menurun.
2) Fungsi
paratiroid dan sekesinya tak berubah.
3) Pituitary,
Pertumbuhan hormon ada tetapi lebih rendah dan hanya ada di pembuluh darah dan
berkurangnya produksi dari ACTH, TSH, FSH dan LH.
4) Menurunnya
aktivitas tiriod Ù BMR turun dan menurunnya daya pertukaran zat, dll.
g. Perubahan
sistem pencernaan pada usia lanjut.
1) Kehilangan
gigi, Penyebab utama adanya periodontal disease yang biasa terjadi setelah umur
30 tahun, penyebab lain meliputi kesehatan gigi yang buruk dan gizi yang buruk.
2) Indera
pengecap menurun, Adanya iritasi yang kronis dari selaput lendir, atropi indera
pengecap (± 80 %), hilangnya sensitivitas dari syaraf pengecap dilidah terutama
rasa manis, asin, asam & pahit.
3) Esofagus
melebar,dll.
h. Perubahan
sistem reproduksi dan kegiatan sexual.
1) Perubahan
sistem reprduksi.
a) selaput lendir
vagina menurun/kering.
b) menciutnya ovarium
dan uterus.
c) atropi payudara.
d) testis masih dapat
memproduksi meskipun adanya penurunan secara berangsur berangsur.
e) dorongan sex
menetap sampai usia diatas 70 tahun, asal kondisi kesehatan baik.
2) Kegiatan
sexual.
Pada masa usia lanjut khususnya pada wanita salah satu
ciri perubahannya yaitu mengalami fase menopause. Akibat berhentinya haid,
berbagai organ reproduksi akan mengalami perubahan. Rahim mengalami antropi
(keadaan kemunduran gizi jaringan), panjangnya menyusut, dan dindingnya
menipis. Jaringan miometrium (otot rahim) menjadi sedikit dan lebih banyak
mengandung jaringan fibriotik (sifat berserabut secara berlebihan). Leher rahim
(serviks) menyusut tidak menonjol kedalam vagina bahkan lama-lama akan merata
dengan dinding vagina, dsb.
1) Hot flushes (perasaan panas)
Adalah rasa panas yang luar biasa
pada wajah dan tubuh bagian atas (seperti leher dan dada). Dengan perabaan
tangan akan terasa adanya peningkatan suhu pada daerah tersebut. Gejolak panas
terjadi karena jaringan-jaringan yang sensitif atau yang bergantung pada
esterogen akan terpengaruh sewaktu kadar estrogen menurun. Pancaran panas
diperkirakan merupakan akibat dari pengaruh hormon pada bagian otak yang
bertanggung jawab untuk mengatur temperatur tubuh.
2) Keringat Berlebihan
Cara bekerjanya secara persis tidak
diketahui, tetapi pancaran panas pada tubuh akibat pengaruh hormon yang
mengatur termostat tubuh pada suhu yang lebih rendah. Akibatnya, suhu udara
yang semula dirasakan nyaman, mendadak menjadi terlalu panas dan tubuh mulai
menjadi panas serta mengeluarkan keringat untuk mendinginkan diri. Selain itu,
dalam kehidupan seorang wanita, jaringan-jaringan vagina menjadi lebih tipis
dan berkurang kelembabannya seiring dengan kadar estrogen yang menurun. Gejala
lain yang dialami wanita adalah berkeringat dimalam hari.
3) Vagina Kering
Perubahan pada organ reproduksi,
diantaranya pada daerah vagina sehingga dapat menimbulkan rasa sakit pada saat
berhubungan intim. Selain itu, akibat berkurangnya estrogen menyebabkan keluhan
gangguan pada epitel vagina, jaringan penunjang, dan elastisitas dinding
vagina. Padahal, epitel vagina mengandung banyak reseptor estrogen yang sangat
membantu mengurangi rasa sakit dalam berhubungan seksual.
4) Tidak dapat menahan air seni
Ketika usia bertambah, air seni
sering tidak dapat ditahan pada saat bersin dan batuk. Hal ini akibat estrogen
yang menurun sehingga salah satu dampaknya adalah inkonsitensia urin (tidak
dapat mengendalikan fungsi kandung kemih). Perlu diketahui, dinding serta
lapisan otot polos uretra perempuan juga mengandung banyak reseptor estrogen.
Kekurangan estrogen menyebabkan terjadinya gangguan penutupan uretra dan
perubahan pola aliran urin menjadi abnormal sehingga mudah terjadi infeksi pada
saluran kemih bagian bawah.
5) Hilangnya jaringan penunjang
Rendahnya kadar estrogen dalam tubuh
berpengaruh pada jaringan kolagen yang berfungsi sebagai jaringan penunjang
pada tubuh. Hilangnya kolagen menyebabkan kulit kering dan keriput, rambut
terbelah-belah, rontok, gigi mudah goyang dan gusi berdarah, sariawan, kuku
rusak, serta timbulnya rasa sakit dan ngilu pada persendian.
6) Penambahan berat badan
7) Gangguan mata
8) Nyeri tulang dan sendi
i. Perubahan otot
Penurunan berat badan sebagai akibat
hilangnya jaringan otot dan jaringan lemak tubuh. Presentasi lemak tubuh
bertambah pada usia 40 tahun dan berkurang setelah usia 70 tahun. Penurunan
Lean Body Mass ( otot, organ tubuh, tulang) dan metabolisme dalam sel-sel otot
berkurang sesuai dengan usia. Penurunan kekuatan otot mengakibatkan orang
sering merasa letih dan merasa lemah, daya tahan tubuh menurun karena terjadi
atrofi. Berkurangnya protein tubuh akan menambah lemak tubuh. Perubahan
metabolisme lemak ditandai dengan naiknya kadar kolesterol total dan
trigliserida.
Ciri – ciri perubahan fisik masa usia lanjut akan
berpengaruh juga pada kondisi kesehatannya, seperti berikut :
· Keadaan
tubuh: Kadar lemak dalam tubuh meningkat akibat penurunan
aktivitas fisik dan kurang makanan berserat. Daya motorik otot menurun membuat
orang sulit bergerak. Jumlah air di dalam tubuh berkurang. Massa tulangpun
menurun karena kondisi tulang mulai rapuh, sementara pertumbuhan tulang sudah
berhenti.
· Pencernaan: Gangguan
pada gigi dan perubahan bentuk rahang mengakibatkan sulitnya mengunyah makanan.
Daya penciuman dan perasa menurun, hal ini menyebabkan turunnya selera makan
yang berakibat kekurangan gizi. Menurunnya produksi asam lambung dan enzim
pencernaan, mempengaruhi penyerapan vitamin dan zat-zat lain pada usus.
Penurunan perkembangan lapisan otot pada usus, melemahkan dinding usus, dan
menurunkan daya cerna usus. Fungsi hati yang memproses racun, seperti
obat-obatan dan alkohol pun melemah.
· Kekebalan
tubuh: Akibat berkurangnya kemampuan tubuh memproduksi antibodi
pada masa lansia, sistim kekebalan tubuhpun menurun. Hal ini membuat lansia
rentan terhadap berbagai macam penyakit.
· Jantung: Daya
pompa jantung menurun karena elastisitas pembuluh arteri melemah, semua ini
akibat perubahan kolagen dan elastin dalam dinding arteri.
· Pernafasan: Fungsi
paru-paru menurun akibat berkurangnya elastisitas serabut otot yang
mempertahankan pipa kecil dalam paru-paru tetap terbuka. Penurunan fungsi ini
akan lebih berat jika orang bersangkutan memiliki kebiasaan merokok dan kurang
berolahraga.
· Otak
dan syaraf. Menurunnya kemampuan fungsi otak melemahkan daya
ingat. Akibatnya, orang lansia suka sering lupa makan atau minum obat, yang
pada akhirnya akan menimbulkan penyakit, dll
PERUBAHAN PSIKOLOGIS PADA
MASA TUA
Proses menua (aging) adalah proses alami yang disertai
adanya penurunan kondisi fisik, psikologis maupun sosial yang saling
berinteraksi satu sama lain. Keadaan itu cenderung berpotensi menimbulkan
masalah kesehatan secara umum maupun kesehatan jiwa secara khusus pada lansia.
Faktor-faktor yang Mempengaruhi
Ada beberapa faktor yang sangat berpengaruh terhadap
kesehatan jiwa lansia. Faktor-faktor tersebut hendaklah disikapi secara bijak
sehingga para lansia dapat menikmati hari tua mereka dengan bahagia. Adapun
beberapa faktor yang dihadapi para lansia yang sangat mempengaruhi kesehatan
jiwa mereka adalah sebagai berikut:
a. Penurunan Kondisi Fisik
b. Penurunan Fungsi dan Potensi Seksual
Faktor
psikologis yang menyertai lansia antara lain :
- Rasa tabu
atau malu bila mempertahankan kehidupan seksual pada lansia
- Sikap
keluarga dan masyarakat yang kurang menunjang serta diperkuat oleh tradisi
dan budaya.
- Kelelahan
atau kebosanan karena kurang variasi dalam kehidupannya.
- Pasangan
hidup telah meninggal.
- Disfungsi
seksual karena perubahan hormonal atau masalah kesehatan jiwa lainnya
misalnya cemas, depresi, pikun dsb.
c. Perubahan Aspek Psikososial
Pada
umumnya setelah orang memasuki lansia maka ia mengalami penurunan fungsi
kognitif dan psikomotor. Fungsi kognitif meliputi proses belajar, persepsi,
pemahaman, pengertian, perhatian dan lain-lain sehingga menyebabkan reaksi dan
perilaku lansia menjadi makin lambat. Sementara fungsi psikomotorik (konatif)
meliputi hal-hal yang berhubungan dengan dorongan kehendak seperti gerakan,
tindakan, koordinasi, yang berakibat bahwa lansia menjadi kurang cekatan.
Dengan
adanya penurunan kedua fungsi tersebut, lansia juga mengalami perubahan aspek
psikososial yang berkaitan dengan keadaan kepribadian lansia. Beberapa
perubahan tersebut dapat dibedakan berdasarkan 5 tipe kepribadian lansia
sebagai berikut:
- Tipe
Kepribadian Konstruktif (Construction personalitiy), biasanya tipe ini
tidak banyak mengalami gejolak, tenang dan mantap sampai sangat tua.
- Tipe
Kepribadian Mandiri (Independent personality), pada tipe ini ada
kecenderungan mengalami post power sindrome, apalagi jika pada masa
lansia tidak diisi dengan kegiatan yang dapat memberikan otonomi pada
dirinya.
- Tipe
Kepribadian Tergantung (Dependent personalitiy), pada tipe ini biasanya
sangat dipengaruhi kehidupan keluarga, apabila kehidupan keluarga selalu
harmonis maka pada masa lansia tidak bergejolak, tetapi jika pasangan
hidup meninggal maka pasangan yang ditinggalkan akan menjadi merana, apalagi
jika tidak segera bangkit dari kedukaannya.
- Tipe
Kepribadian Bermusuhan (Hostility personality), pada tipe ini setelah
memasuki lansia tetap merasa tidak puas dengan kehidupannya, banyak
keinginan yang kadang-kadang tidak diperhitungkan secara seksama sehingga
menyebabkan kondisi ekonominya menjadi morat-marit.
- Tipe
Kepribadian Kritik Diri (Self Hate personalitiy), pada lansia tipe ini
umumnya terlihat sengsara, karena perilakunya sendiri sulit dibantu orang
lain atau cenderung membuat susah dirinya.
d. Perubahan yang Berkaitan Dengan Pekerjaan
Pada
umumnya perubahan ini diawali ketika masa pensiun. Meskipun tujuan ideal
pensiun adalah agar para lansia dapat menikmati hari tua atau jaminan hari tua,
namun dalam kenyataannya sering diartikan sebaliknya, karena pensiun sering
diartikan sebagai kehilangan penghasilan, kedudukan, jabatan, peran, kegiatan,
status dan harga diri. Reaksi setelah orang memasuki masa pensiun lebih
tergantung dari model kepribadiannya.
e. Perubahan Dalam Peran Sosial di Masyarakat
Akibat
berkurangnya fungsi indera pendengaran, penglihatan, gerak fisik dan sebagainya
maka muncul gangguan fungsional atau bahkan kecacatan pada lansia. Misalnya
badannya menjadi bungkuk, pendengaran sangat berkurang, penglihatan kabur dan
sebagainya sehingga sering menimbulkan keterasingan. Hal itu sebaiknya dicegah
dengan selalu mengajak mereka melakukan aktivitas, selama yang bersangkutan
masih sanggup, agar tidak merasa terasing atau diasingkan.
Karena
jika keterasingan terjadi akan semakin menolak untuk berkomunikasi dengan orang
lain dan kdang-kadang terus muncul perilaku regresi seperti mudah menangis,
mengurung diri, mengumpulkan barang-barang tak berguna serta merengek-rengek
dan menangis bila ketemu orang lain sehingga perilakunya seperti anak kecil.
PENYESUAIAN
DIRI PADA MASA TUA (ADJUSTMENT)
Yang dimaksud dengan
penyesuaian diri pada lanjut usia adalah kemampuan orang yang berusia lanjut
untuk menghadapi tekanan atau konflik akibat perubahan – perubahan fisik,
maupun sosial – psikologis yang dialaminya dan kemampuan untuk mencapai
keselarasan antara tuntutan dari dalam diri dengan tuntutan dari lingkungan,
yang disertai dengan kemampuan mengembangkan mekanisme psikologis yang tepat
sehingga dapat memenuhi kebutuhan – kebutuhan dirinya tanpa menimbulkan masalah
baru.
Penyesuaian diri lanjut
usia pada kondisi psikologisnya berkaitan dengan dimensi emosionalnya dapat
dikatakan bahwa lanjut usia dengan keterampilan emosi yang berkembang baik
berarti kemungkinan besar ia akan bahagia dan berhasil dalam kehidupan,
menguasai kebiasaan pikiran yang mendorong produktivitas mereka. Orang yang
tidak dapat menghimpun kendali tertentu atas kehidupan emosinya akan mengalami
pertarungan batin yang merampas kemampuan mereka untuk berkonsentrasi ataupun
untuk memiliki pikiran yang jernih. Ohman & Soares (1998) melakukan
penelitian yang menghasilkan kesimpulan bahwa sistem emosi mempercepat sistem
kognitif untuk mengantisipasi hal buruk yang mungkin akan terjadi. Stimuli yang
relevan dengan rasa takut menimbulkan reaksi bahwa hal buruk akan terjadi.
Terlihat bahwa rasa takut mempersiapkan individu untuk antisipasi datangnya hal
tidak menyenangkan yang mungkin akan terjadi. Secara otomatis individu akan
bersiap menghadapi hal-hal buruk yang mungkin terjadi bila muncul rasa takut.
Ketika individu memasuki fase lanjut usia, gejala umum yang nampak yang dialami
oleh orang lansia adalah “perasaan takut menjadi tua”. Ketakutan tersebut
bersumber dari penurunan kemampuan yang ada dalam dirinya. Kemunduran mental
terkait dengan penurunan fisik sehingga mempengaruhi kemampuan memori,
inteligensi, dan sikap kurang senang terhadap diri sendiri.
PENYESUAIAN TERHADAP
KARIER(PEKERJAAN)
Pria lanjut usia biasanya
lebih tertarik pada jenis pekerjaan yang statis daripada pekerjaan yang
bersifat dinamis dan menantang. Dampak yang mereka peroleh adalah pekerjaan
yang memberi kepuasan pada dirinya walaupun pekerjaan itu jelas berbeda dengan
pekerjaan orang yang lebih muda atau pekerjaan pada masa mudanya. Bahkan mereka
mengetahui bahwa sebentar lagi akan pensiun, atau bagi yang sudah pensiun akan
berhenti bekerja, sehingga apa yang dilakukan tidak mempengaruhi sikap mereka
terhadap pekerjaannya jika mereka memang menikmati apa yang mereka kerjakan.
a. Sikap
Pada masa lanjut usia,
yang juga terjadi pada tingkat usia lain selama rentang hidup masa dewasa,
orang mempunyai alasan yang berbeda terhadap pekerjaan yang diinginkan, seperti
yang diungkapkan oleh Havighurst Hurlock(1992:414), bahwa sikap terhadap kerja merupakan
dasar terhadap pekerjaan yang diinginkan.
b. Kesempatan Kerja
Selama usia madya
kesempatan bekerja berkurang dengan cepat. Pada usia madya sangat sulit bahkan
sering tidak mungkin memperoleh pekerjaan baru. Bagi lansia yang masih mendapat
pekerjaan tentu sangat beruntung, hanya saja jenis pekerjaan yang diperoleh
umumnya lebih banyak bersifat monoton, pekerjaan yang statis dan kurang
berkembang dan mungkin juga tidak sesuai dengan tingkat kemampuan dan latihan
yang pernah diterima. Hal itu mengakibatkan mereka merasa tidak puas. Secara
relatif, hanya ada beberapa pekerjaan yang terbuka bagi orang lanjut usia yang
berketrampilan tinggi atau jenis pekerjaan yang memerlukan tanggung jawab
tinggi atau juga pekerjaan profesional yang sangat diperlukan di masyarakat.
Dalam dunia usaha dan industri hanya pekerjaan yang ringan dan menyenangkan
saja yang tersedia bagi pekerja lanjut usia.
c. kinerja
Penelitian tentang
pekerja lanjut usia menekankan pada kualitas kerja yang menyumbang keberhasilan
mereka dalam kerja. Pekerja lanjut usia, misalnya karena mereka banyak memiliki
pengalaman, cenderung bekerja dengan gerak yang lamban daripada pekerja muda yang
kurang berpengalaman. Kelebihan ini dapat menutupi kelemahan mereka dalam
bekerja. Pertambahan beban masalah yang berhubungan dengan kehidupan pribadinya
juga berkurang daripada pekerja muda yang keinginannya biasanya lebih
dipusatkan pada cinta keluarga, sementara bagi lansia yang penting adalah rasa
aman untuk bekerja dan tidak dikejar-kejar waktu, sehingga dapat bekerja dengan
tenang.
PENYESUAIAN DIRI DALAM
KEHIDUPAN SOSIAL
A.
Orang lanjut usia memiliki status kelompok minoritas
Lansia
memiliki status kelompok minoritas karena sebagai akibat dari sikap sosial yang
tidak menyenangkan terhadap orang lanjut usia dan diperkuat oleh
pendapat-pendapat klise yang jelek terhadap lansia. Pendapat-pendapat klise iu
seperti : lansia lebih senang mempertahankan pendadapatnya daripada
mendengarkan pendapat orang lain. Menua membutuhkan perubahan peran. Perubahan
peran tersebut dilakukan karena lansia mulai mengalami kemunduran dalam segala
hal. Perubahan peran pada lansia sebaiknya dilakukan atas dasar keinginan
sendiri bukan atas dasar tekanan dari lingkungan.
B.
Penyesuaian yang buruk pada lansia
Perlakuan yang buruk terhadap orang lanjut usia
membuat lansia cenderung mengembangkan konsep diri yang buruk. Lansia lebih
memperlihatkan bentuk perilaku yang buruk. Karena perlakuan yang buruk itu
membuat penyesuaian diri lansia menjadi buruk.
C.
Perubahan sosial
Umumnya lansia banyak yang melepaskan partisipasi
sosial mereka, walaupun pelepasan itu dilakukan secara terpaksa. Orang lanjut
usia yang memutuskan hubungan dengan dunia sosialnya akan mengalami kepuasan.
Pernyataan tadi merupakan disaggrement theory. Aktivitas sosial yang banyak
pada lansia juga mempengaruhi baik
PENYESUAIAN DIRI TERHADAP
KELUARGA
A.
Perubahan kehidupan keluarga
Sebagian besar hubungan lansia dengan anak jauh kurang
memuaskan yang disebabkan oleh berbagai macam hal. Penyebabnya antara lain :
kurangnya rasa memiliki kewajiban terhadap orang tua, jauhnya jarak tempat
tinggal antara anak dan orang tua. Lansia tidak akan merasa terasing jika
antara lansia dengan anak memiliki hubungan yang memuaskan sampai lansia
tersebut berusia 50 sampai 55 tahun.
Orang tua usia lanjut yang perkawinannya bahagia dan tertarik
pada dirinya sendiri maka secara emosional lansia tersebut kurang tergantung
pada anaknya dan sebaliknya. Umumnya ketergantungan lansia pada anak dalam hal
keuangan. Karena lansia sudah tidak memiliki kemampuan untuk dapat memenuhi
kebutuhan hidupnya. Anak-anaknya pun tidak semua dapat menerima permintaan atau
tanggung jawab yang harus mereka penuhi.
Perubahan-perubahan
tersebut pada umumnya mengarah pada kemunduruan kesehatan fisik dan psikis yang
akhirnya akan berpengaruh juga pada aktivitas ekonomi dan sosial mereka.
Sehingga secara umum akan berpengaruh pada aktivitas kehidupan sehari-hari.
4. HUBUNGAN SOSIO-EMOSIONAL
LANSIA
Keberadaan lingkungan
keluarga dan sosial yang menerima lansia juga akan memberikan kontribusi
positif bagi perkembangan sosio-emosional lansia, namun begitu pula sebaliknya
jika lingkungan keluarga dan sosial menolaknya atau tidak memberikan ruang
hidup atau ruang interaksi bagi mereka maka tentunya memberikan dampak negatif
bagi kelangsungan hidup lansia.
Menurut teori aktivitas (activity
theory), semakin orang dewasa lanjut aktif dan terlibat, semakin kecil
kemungkinan mereka menjadi renta dan semakin besar kemngkinan mereka merasa
puas dengan kehidupannya. Dalam hal ini penting bagi para dewasa lanjut untuk
menemukan peran-peran pengganti untuk tetap menjaga keaktifan mereka dan
keterlibatan mereka didalam aktivitas kemasyarakatan. Dengan adanya aktivitas
pengganti ini maka dapat menghindari individu dari perasaan tidak berguna,
tersisihkan, yang membuat mereka menarik diri dari lingkungan.
Dalam teori rekonstruksi
gangguan sosial (social breakdown-reconstruction theory) (Kuypers &
Bengston, 1973) menyatakan bahwa penuaan dikembangkan melalui fungsi psikologis
negative yang dibawa oleh pandangan-pandangan negatif tentang dunia sosial dari
orang-orang dewasa lanjut dan tidak memadainya penyediaan layanan untuk mereka.
Rekonstruksial dapat terjadi dengan merubah pandangan dunia sosial dari
orang-orang dewasa lanjut dan dengan menyediakan sistem-sistem yang mendukung mereka.
Ketersediaan layanan bagi dewasa lanjut dapat mengubah pandangan mereka
mengeanai lingkungan sosialnya. Mereka akan tetap mampu untuk berperan aktif
dengan layanan yang ada dan juga mereka akan mengubah pandangan dunia sosial
yang negatif dan meniadakan pemberian label sebagai seseorang yang tidak mampu
(incompetent). Dorongan untuk berpartisipasi aktif orang-orang dewasa
lajut di masyarakat dapat meningkatkan kepuasan hidup dan perasaan positif
mereka terhadap dirinya sendiri.
GANGGUAN
PSIKOLOGIS PADA MASA TUA
a. Gangguan persepsi
b. Proses berpikir
c. Gangguan Sensorik dan kognitif
d. Gangguan Kesadaran
e. Gangguan Orientasi
Gangguan orientasi terhadap waktu, tempat dan orang
berhubungan dengan gangguan kognisi. Gangguan orientasi sering ditemukan pada
gangguan kognitif, gangguan kecemasan, gangguan buatan, gangguan konversi dan
gangguan kepribadian, terutama selam periode stres fisik atau lingkungan yang
tidak mendukung. Pemeriksa dilakukan dengan dua cara: Apakah penderita
mengenali namanya
sendiri dan apakah juga mengetahui tanggal, tahun, bulan dan hari.
f. Gangguan Daya ingat
g. Gangguan Fungsi intelektual
Didalam buku “Psikologi
Agama” yang ditulis oleh Bambang Syamsul Arifin, mengatakan bahwa
manusia dari masa ke masa selalu bergerak melakukan kegiatan untuk meraih
harapan kesempurnaan dalam hidup dan terhindar dari kekawatiran mereka, hal
demikian tentu juga masih dirasakan oleh golongan orang-orang lanjut usia.
Langganan:
Postingan (Atom)


